LPPSLH - Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup

Cerita Pendamping PUK

Pendampingan Pasar Tradisional di Purbalingga

Seperti biasa sebagai pendamping saya dan tim yang ada di program PUK berkunjung dan bergiat dengan masyarakat dampingan. Seringkali ketika kita berkunjung ala orang desa disebut dengan nama “ngendong” kita disambut dengan ceria, suguhan berupa jaburan ganyong dan ubi serta kopi Jawa sering menjadi teman kita ngobrol dengan tuan rumah. Saya yang tidak begitu suka dengan kopi lebih memilih minta teh sepet Jawa pada tuan rumah, dan kini setelah mereka tahu bahwa saya gandrung dengan teh sepet Jawa sampai-sampai beberapa kali pelatihan dibawakan satu tremos teh Jawa untuk pendamping dan menariknya satu waktu saya pulang dari kunjungan ke salah satu kader dibawakan satu tas plastik teh Jawa hasil petikan sendiri.

Afrizal saat melakukan pendampingan pedagang pasar tradisional di Bobotsari-Purbalingga

Afrizal saat melakukan pendampingan pedagang pasar tradisional di Bobotsari-Purbalingga

Yang lebih mengesankan lagi adalah ketika kita sedang pelatihan, agar lebih efektif dalam menjalankan kegiatan maka kita upayakan menginap di rumah salah satu kader. Setiap kali kami akan menginap pasti mereka berebut agar kita mau menginap di rumah salah satu dari mereka, maka agar kita tidak mengecewakan mereka maka kita upayakan untuk menggilir tempat yang akan kita tempati untuk menginap. Dalam sela-sela waktu luang dalam menginap itulah kami gunakan untuk berbincang-bincang santai dengan tuan rumah. Dari perbincangan itulah tanpa disadari kami mendapatkan informasi banyak terkait kondisi masyarakat, pemerintahan desa, dan karakter masing-masing kader yang selanjutnya dapat kita angkat dalam pelatihan. Dari informasi yang kita kantongi itu kita coba singgung dan dibahas dalam forum, tanpa sepengetahuan peserta ternyata persoalan yang sebelumnya terkesan berat dan tak mungkin bisa diselesaikan dapat dipecahkan oleh mereka sendiri dengan suasana riang.

Selain itu ketika kami ngobrol dengan pengurus ketika koordinasi saat kegiatan, kami dari tim pendamping ASPPUK meminta agar kami jangan dilayani seperti tamu dan biarkan kami mengambil sendiri jika kami sedang haus. Tapi ada jawaban yang membuat kami kaget, bahwa ibu Turiyah selaku ketua melayani pendamping karena sudah terbiasa ketika di kecamatan mengikuti Musrenbang beliau yang berinisiatif untuk menyuguhkan konsumsi untuk tim TPK kecamatan dan dari situlah maka kebiasaan melayani pendamping terbawa. Lalu kami pun bertanya, kalau sedang berkegiatan kan tidak harus ibu ketua yang menyuguhkan pada kami? Lalu dijawab bahwa teman-teman peserta takut ketinggalan materi ketika pendamping memberikan memandu kegiatan, sehingga dari mereka tidak ada yang beranjak dari ruangan untuk sekedar memberikan konsumsi. Kami dari pendamping langsung terbelalak mendengar jawaban itu, luar biasa semangat mereka dalam mengikuti setiap materi kegiatan. Dari situlah maka kami dari pendamping berusaha untuk dekat dengan kader dan bersikap setara dengan mereka, tentunya tanpa membuat mereka saru dan berani terhadap pendamping dengan cara pendamping menjaga kepercayaan dan sikap.

Penulis : Afrizal Fadli A. (Staf Program PUK-M)

0 Komentar

Informasi Lainnya