
PURWOKERTO, LPPSLH.OR.ID — Dinamika perubahan zaman dan pesatnya perkembangan teknologi informasi telah membawa gelombang disrupsi ke berbagai sektor kehidupan, tak terkecuali bagi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Di tengah fenomena menurunnya tingkat kepercayaan publik serta bermunculannya aktor-aktor baru dalam gerakan sosial, Lembaga Penelitian Pengembangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH) mengambil langkah sejarah yang berani. LSM yang telah puluhan tahun berkiprah di lini terdepan pemberdayaan masyarakat ini merespons tantangan zaman dengan mempelopori transformasi digital, yakni melalui peluncuran sebuah platform website interaktif di alamat lppslh.or.id.
Langkah inovatif dan strategis ini secara resmi diperkenalkan ke hadapan publik dalam acara soft launching yang bertepatan dengan momentum “Sambung Rasa Pegiat LPPSLH, Alumni LPPSLH, dan Kader Komunitas” pada hari Sabtu, 14 Februari 2026 di Warunge Dewek, Purwokerto. Acara yang berlangsung hangat, reflektif, dan penuh semangat pembaruan ini difasilitasi langsung oleh Direktur LPPSLH, Bangkit Ari Sasongko. Sementara itu, pemaparan mendalam serta presentasi utama mengenai visi, fitur, dan landasan filosofis di balik pembangunan website ini dibawakan oleh Dr. Barid Hardiyanto, pemantik gagasan sekaligus salah satu tokoh penting di balik transformasi lembaga tersebut.
Kehadiran platform lppslh.or.id ini ditegaskan bukan sekadar pembaruan desain wajah digital atau kelengkapan etalase profil lembaga semata. Lebih dari itu, website ini merupakan wujud nyata dari revolusi cara kerja dan “model bisnis” organisasi masyarakat sipil. LPPSLH menyadari sepenuhnya bahwa era bekerja secara konvensional, linier, eksklusif, dan birokratis sudah mencapai batas usianya. Melalui kehadiran platform canggih ini, LPPSLH secara resmi bertransformasi menjadi ruang pertemuan, titik hubung, dan ekosistem terpadu bagi para pegiat atau aktivis pergerakan dari berbagai latar belakang untuk berkolaborasi, bertukar data lapangan, dan merancang aksi-aksi sosial yang berdampak nyata.
Peringatan Keras Gelombang Disrupsi LSM
Langkah LPPSLH membangun platform ekosistem ini bukanlah tanpa alasan yang mendesak. Gagasan fundamental ini berakar kuat dari analisis kritis mengenai lanskap kondisi LSM kontemporer. Seperti yang pernah diulas secara tajam oleh Barid Hardiyanto dalam kolom opininya di situs berita Tempo.co dengan tajuk “Disrupsi LSM”, eksistensi lembaga nirlaba saat ini sedang benar-benar diuji. Dalam tulisan tersebut, ia menyoroti temuan Edelman Trust Barometer yang mengindikasikan adanya tren penurunan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap LSM, yang posisinya bahkan sempat tertinggal di bawah tingkat kepercayaan publik terhadap sektor bisnis dan pemerintahan.
Lebih lanjut, artikel di Tempo tersebut menjabarkan bahwa LSM kini dihadapkan pada persaingan ketat dengan “penantang tak kasat mata”. Kerja-kerja perubahan sosial dan advokasi pelayanan publik yang dulu dimonopoli oleh LSM, kini mulai digeser oleh kehadiran entitas startup, platform crowdfunding (seperti Kitabisa.com), wirausaha sosial (social enterprise), hingga gerakan spontan yang dimotori oleh individu atau pemengaruh (influencer) di media sosial. Advokasi pelayanan publik yang dulunya memakan waktu berbulan-bulan melalui jalur birokrasi parlemen yang kaku, kini bisa diselesaikan dalam hitungan jam hanya dengan sebuah cuitan viral di platform X (Twitter) atau melalui koordinasi cepat di dalam grup WhatsApp. Jika LSM tidak peka, menolak terbuka, dan gagal mengubah metode kerjanya, mereka dipastikan akan tergilas zaman.
Evolusi Paradigma: Dari Program Menuju Platform
Transformasi besar yang diusung oleh LPPSLH melalui lppslh.or.id ini berjalan selaras dengan gagasan komprehensif yang tertuang dalam Ebook berjudul Disrupsi LSM: Arah Baru di Tengah Perubahan Zaman karya Dr Barid Hardiyanto. Dalam literatur tersebut ditegaskan secara lugas bahwa LSM harus berani melakukan pergeseran fundamental, yakni beralih dari pola pikir “program” menuju pola pikir “platform”. Program konvensional sering kali bekerja satu arah seperti pipa, di mana nilai diciptakan secara internal oleh ahli dan didorong kepada penerima manfaat di ujung yang lain. Sebaliknya, platform tidak menciptakan layanan itu sendiri, melainkan membangun sebuah panggung atau ekosistem digital tempat berbagai kelompok pengguna bisa saling terhubung dan menciptakan nilai bersama.
Dalam presentasinya di hadapan para pegiat dan kader komunitas, Barid Hardiyanto menekankan bahwa arsitektur lppslh.or.id dirancang murni dengan filosofi platform tersebut. “Kita harus berani menerima kenyataan bahwa era ‘LSM seperti biasa’ telah berakhir, karena kapal yang selama puluhan tahun menjadi kendaraan utama para pegiat sosial kini telah menabrak gunung es disrupsi,” ungkap Barid di hadapan peserta. Ia menjelaskan bahwa platform ini membuka ruang partisipasi interaktif yang luas, memungkinkan intervensi dan perumusan masalah yang dikendalikan oleh kekuatan dari bawah (akar rumput).
Lebih lanjut, referensi Disrupsi LSM memaparkan bahwa organisasi masa depan harus terbuka dan kolaboratif, di mana mereka harus beroperasi seperti sebuah platform yang menghubungkan banyak pihak, bukan seperti benteng yang melindungi keahliannya sendiri. Oleh karena itu, fitur-fitur di dalam lppslh.or.id dirancang untuk memfasilitasi kolaborasi antarsektor, sekaligus menjadi jawaban atas tuntutan zaman yang menginginkan transparansi radikal dan dampak yang terukur secara real-time.
Perubahan Peran Sejati: Dari “Pahlawan” Menjadi “Tuan Rumah”
Salah satu sorotan paling esensial dalam acara soft launching ini adalah seruan perubahan pola pikir (mindset) bagi seluruh aktor gerakan. Selama puluhan tahun, LSM dan para aktivisnya acap kali terbuai oleh pola pikir atau sindrom “pahlawan” yang merasa datang membawa ilmu dan solusi untuk “menyelamatkan” komunitas yang dianggap tidak berdaya. Namun, melalui platform digital baru ini, peran kelembagaan LPPSLH secara radikal bergeser dari sosok pahlawan tunggal menjadi seorang fasilitator atau “tuan rumah”.
Peran “tuan rumah” ini mengandung arti bahwa LPPSLH bertugas menggelar panggung agar komunitas dapat menemukan jawaban dan mengkapitalisasi kekuatannya sendiri. Dengan fasilitas platform lppslh.or.id, masyarakat sipil, donatur/ funding, relawan muda, pakar IT, serta elemen pemerintah dapat berinteraksi secara sejajar. Hal ini secara langsung mengobati penyakit birokrasi dan keterputusan hubungan antara donatur, LSM yang bekerja, dan penerima manfaat yang sering menjangkiti model operasi nirlaba tradisional.
Bagi LPPSLH, hal ini merupakan praktik nyata dari self-disruption atau disrupsi diri, yaitu proses sadar untuk membongkar asumsi, kebiasaan, dan struktur internal sebelum mereka menjadi belenggu yang mematikan. Proses ini berdiri di atas tiga pilar kokoh yakni kelincahan (agility), kemandirian (self-driving), dan fokus pada eksekusi (execution).
Direktur LPPSLH, Bangkit Ari Sasongko, dalam sesi diskusinya dengan para alumni menegaskan bahwa disrupsi kelembagaan ini adalah sebuah keharusan mutlak jika ingin bertahan. “Platform lppslh.or.id adalah wujud konkret dari keberanian kita untuk mendisrupsi diri sendiri. Kami tidak lagi hanya berfokus pada kerja-kerja yang tertutup, melainkan memadukannya dengan kekuatan digital. Website ini dirancang agar setiap inisiatif aktivis, laporan dari desa, dan gagasan pembangunan dapat langsung terhubung dengan ekosistem yang lebih luas secara independen dan adaptif,” papar Bangkit.
Panggilan Kolaborasi bagi Seluruh Elemen Masyarakat Sipil
Mengingat hakikatnya sebagai sebuah platform ekosistem, nilai (atau value) dari lppslh.or.id tidak lahir dari sang pencipta platform, melainkan tumbuh seiring dengan interaksi kolaboratif para penggunanya. Oleh karena itu, acara “Sambung Rasa” yang digelar pada Hari Valentine ini tidak sekadar menjadi medium silaturahmi, tetapi ditujukan sebagai titik tolak konsolidasi gerakan baru. Melalui soft launching ini, LPPSLH menaruh harapan besar dan mengundang kolaborasi lintas batas dari seluruh komponen masyarakat sipil untuk bersedia menjadi bagian aktif dari platform tersebut.
“Kami mengundang seluruh pegiat sosial, LSM mitra, serikat pekerja, kelompok petani, akademisi kampus, hingga startup teknologi yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu keadilan struktural, pemerataan ekonomi, dan ekologi untuk bergabung di platform ini,” tambah Bangkit.
Senada dengan hal tersebut, Barid Hardiyanto menutup presentasinya dengan pesan yang menggugah. Mengacu pada gagasannya, menciptakan solusi baru (create) di sektor nirlaba adalah soal keberanian berimajinasi untuk percaya bahwa platform lebih kuat daripada program. Ia memastikan bahwa alat teknologi secanggih apa pun harus bermuara pada agenda keadilan mendasar atau “Disruptive Justice” (Disrupsi untuk Keadilan). Teknologi di lppslh.or.id harus menjadi perisai bagi mereka yang tertindas, menjadi panggung bagi suara masyarakat marginal, dan memfasilitasi distribusi ekonomi kerakyatan secara transparan.
Peluncuran lppslh.or.id menjadi penanda penting bahwa fajar era baru bagi gerakan kerelawanan dan pemberdayaan sosial di Indonesia telah tiba. Langkah LPPSLH ini membuktikan bahwa dengan keberanian merombak diri dan merangkul inovasi, kebaikan akan senantiasa menemukan jalan dan bentuk terbaiknya di setiap zaman.







