PROSES PENDAMPINGAN PETANI GULA DI KECAMATAN PANDANARUM, KABUPATEN BANJARNEGARA

Published by LPPSLH on

Petani Gula Aren di Kabupaten Banjarnegara

Petani Gula Aren di Kabupaten Banjarnegara

Situasi baru dihadapi oleh staf pada awal-awal pelaksanaan program sertifikasi gula organik di wilayah Kabupaten Banjarnegara. Pengetahuan yang masih minim membuat staf dalam hal ini saya sendiri untuk terus memacu diri menambah pengetahuan mengenai pertanian organik.Tidak hanya pengetahuan, keterampilan teknis dalam pembuatan gula semut juga dibutuhkan dalam pelaksanaan program ini. Berikut beberapa kegiatan yang dilakukan oleh staff pada periode September – Oktober ini yaitu :

1.    Assessment wilayah
Pada awal bulan September sebelum ditetapkan wilayah sasaran program, staf melakukan assessment di Kecamatan Pandanarum. Tujuan diadakan assessment ini untuk mengetahui sejauh mana potensi aren di Pandanarum serta mengetahui rantai nilai dan titik kritisnya. Hasilnya, Pandanarum yang merupakan sentra aren ternyata jumlahnya semakin sedikit. Hal ini dikarenakan semakin sedikitnya pohon aren yang disebabkan karena pohon ditebang untuk diambil tepungnya (gelang) serta alih fungsi lahan menjadi perkebunan teh. Selain itu pemuda yang meneruskan pekerjaan ayahnya juga tidak ada sehingga jumlah penderes semakin sedikit. Sementara untuk budidayanya pohon aren masih alami.
Pada assessment ini juga ditemukan titik risiko untuk pertanian organik semakin tinggi karena penggunaan pestisida dan obat-obatan lain terutama pada sawah dan perkebunan jagung. Selain itu penggunaan obat-obatan pengeras (sulfit) juga banyak dilakukan oleh penderes. Berdasarkan hasil assessment ini disepakati bahwa wilayah yang akan dijadikan sasaran program ini adalah Desa Sirongge dan Desa Pringamaba kecamatan Pandanarum.

2.    Sosialisasi Program
Setelah dilakukan assessment dan ditetapkan wilayah sasaran kegiatan yang selanjutnya dilakukan oleh staf adalah sosialisasi program. Sosialisasi dilaksanakan di Dusun Deles dan Dusun Bantengan, Desa Sirongge Kecamatan Pandanarum karena jumlah penderes yang sedikit dan jumlah penderes yang tidak banyak serta berjauhan tidak banyak yang hadir pada sosialisasi ini. Namun dapat dilihat antusiasme peserta cukup baik karena mereka sudah lama menantikan program terkait dengan gula kelapa. Mereka menyatakan pula bahwa selama ini belum ada perhatian pemerintah secara serius untuk pembuatan gula semut.

3.    Praktik Pembuatan Gula Semut
Setelah dilaksanakan sosialisasi kemudian ditindaklanjuti dengan praktik pembuatan gula semut. Praktik ini dilakukan di rumah pak Marghadi di Dusun Deles. Hasilnya berhasil dibuat gula semut namun tidak banyak karena jumlah nira yang dihasilkan sedang sedikit. Rencananya akan dicoba praktik membuat gula semut lagi menggunakan nira yang jelek tetapi ditambah dengan laru alami yaitu cangkang manggis dan kapur.

Hambatan Dan Tantangan
–    Lokasi yang cukup jauh
–    Jumlah penderes yang sedikit dan letaknya berjauhan
–    Jumlah pohon aren yang semakin sedikit dan tidak produktif. Selain itu juga ada kalanya pohon aren tidak bisa disadap
–    Titik kritis yang cukup tinggi karena berdekatan dengan kebun dan sawah yang menggunakan metode konvensional
–    Saat dangu tinggal pendek, nira yang dihasilkan jelek sehingga susah untuk dibuat gula semut

Rencana Kegiatan selanjutnya
Pada bulan November ini rencananya akan dilaksanakan sosialisasi dan praktik pembuatan gula semut serta pelatihan kader. Semuanya akan dilaksanakan di Desa Sirongge dan Desa Pringamba

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.