Praktek Pembuatan Gula Semut

Published by LPPSLH on

Sosialisasi program tentang pengembangan gula kelapa di Desa Kabanaran memberikan informasi yang mendorong pengrajin gula kelapa untuk melakukan praktek pembuatan gula semut. Sosialisasi tersebut di fasilitasi oleh Tim Program Pertanian LPPSLH. Praktek pembuatan gula semut dilaksanakan di Desa Kabanaran Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara. Praktek ini dilaksanakan pada tanggal 8 November 2012 bertempat di rumah Pak Kisrin. Keinginan praktek membuat gula semut merupakan inisiatif pengrajin gula kelapa di Desa Kabanaran. Praktek tersebut dipandu oleh pengrajin gula kelapa yang sudah terbiasa membuat gula semut yang bernama Kusdiono yang bertempat tinggal di Desa Rancamaya Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. Praktek ini banyak dihadiri oleh ibu-ibu yang terbiaya membuat gula kelapa.

Proses pembuatan gula semut membutuhkan bahan baku nira yang bagus. Nira yang bagus memiliki cirri warna bening atau bening kemerahan. Untuk menyadap nira yang bagus diperlukan kedisiplinan dalam menyadap, penggunaan laru alami dan menjaga kebersihan tempat penampung nira. Nira yang bagus memiliki pH 7 setelah di ukur dengan pH meter atau kertas lakmus. setelah tersedia bahan nira yang bagus, sebelum di masak dilakukan penyaringan dengan saringan yang memiliki kerapatan tinggi atau memakai saringan stainlesteel mess 100. Melalui penyaringan menjadikan gula semut yang dibuat menjadi bersih dan berkualitas bagus. Untuk memproduksi gula semut sebanyak 5 kg diperlukan bahan baku nira sebanyak kurang lebih 35 liter. Pemasakan nira memerlukan  waktu 4 jam hingga mengental dengan suhu pemanasan mencapai kurang lebih 120 °C. setelah nira mengental dan sudah berubah warna menjadi kemerahan, wajan tempat memasak nira di angkat dari perapian. Nira yang sudah mengental diaduk selama 10 menit sampai terlihat nira sudah pekat dan dipinggiran wajan kelihatan mengering.

Proses selanjutnya meratakan nira yang sudah kental ke seluruh permukaan wajan. Sambil menunggu mongering dan menguapkan air yang masih ada terus dilakukan pengadukan dan meratakan kembali ke permukaan wajan. Setelah nira yang sudah menjadi gula mongering dilanjutkan dengan menghancurkan bongkahan gula dengan batok sampai gula mengkristal menjadi butiran-butiran gula. Setelah itu di ayak dengan menggunakan ayakan berukuran mess 18. Sisa ayakan di hancurkan lagi dengan batok kelapa hingga tidak ada sisa ayakan lagi. Gula semut yang sudah di ayak siap dikeringkan sampai mencapai kadar air 2 %. Proses pengeringan bias dilakukan dengan cara menyangrai ataupun di keringkan dengan menggunakan oven. Gula semut yang sudah kering siap di kemas dan di pasarkan.

Categories: Others

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.