prompt by Barid Hardiyanto
Jalan raya sering kali menjadi metafora paling jujur tentang perjalanan sebuah peradaban. Ia menjadi saksi bisu bagi jutaan roda yang berputar mencari nafkah, bagi langkah kaki anak-anak yang bergegas menuju gerbang sekolah, dan bagi asa yang dirajut di bawah terik matahari. Namun, apa jadinya jika urat nadi kota itu terluka, dibiarkan berlubang tanpa ada yang bersedia benar-benar mengobatinya?
Matahari Januari sering kali tak pandang bulu. Di atas aspal jalanan kota, sinarnya memantul, menciptakan fatamorgana yang menari-nari di ujung pandangan. Keringat menetes dari dahi Kirana, jatuh membasahi kerah kemeja almamaternya. Namun, tak ada keluhan yang keluar dari bibirnya. Gadis itu justru membungkuk perlahan, mengarahkan kamera cerdasnya ke sebuah ceruk menganga di tengah jalan.
”Kedalaman lima sentimeter, lebar sekitar empat puluh sentimeter. Sangat berbahaya untuk pengendara roda dua, apalagi kalau malam hari dan tertutup genangan air hujan,” gumam Kirana pelan. Di sebelahnya, Larasati dengan cekatan mengetikkan koordinat lokasi tersebut ke dalam sabak digitalnya.
Ini adalah hari-hari yang panjang dan melelahkan. Dari tanggal 15 hingga 21 Januari, wajah kota menjadi saksi bisu langkah-langkah teguh sekelompok anak muda. Mereka bukan sedang menghabiskan waktu luang. Mereka, Tim Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dari Universitas Cendekia Nusantara (UCN), tengah menjalankan sebuah misi penting: “Ekspedisi Jalan Rusak”.
Gagasan ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia mekar dari benih keresahan yang sudah lama ditanam oleh ketidakpedulian. Setiap hari, warga kota mengeluh tentang jalan yang berlubang, tentang ban yang tiba-tiba bocor, tentang kecelakaan kecil yang tak pernah tercatat namun menyisakan trauma. Sayangnya, keluhan itu sering kali sekadar menguap di warung kopi atau berujung pada umpatan sesaat di dunia maya.
Sore itu, setelah menyusuri puluhan kilometer jalan utama dan jalur penghubung strategis—sengaja tak menyentuh gang-gang kecil agar fokus pada urat nadi utama lalu lintas kota—tim akhirnya berkumpul di pelataran Lembaga Sosial Pelita Warga.
Wajah-wajah lelah namun menyala itu duduk melingkar. Ada Fajar yang sibuk memijat pundaknya. Ada Haris dan Hakim yang sedang memindahkan ratusan data visual. Di sudut lain, Nisa dan Fitri tengah merekap lembar observasi real-time. Hasilnya sungguh mengejutkan sekaligus menyesakkan; tercatat ada 166 titik lubang jalan dengan tingkat kerusakan bervariasi. Ratusan jebakan diam yang mengancam nyawa.
Dr. Baskoro, Peneliti Senior dj Lembaga Pelita Warga, keluar dari ambang pintu membawa senyum teduhnya yang khas. Di belakangnya, Umar menyusul, menatap bangga pada deretan anak muda di hadapannya.
”Lelah rasanya?” tanya Pak Baskoro. Suaranya tenang, menyejukkan bagai angin sepoi di bawah rindangnya pohon beringin.
Kirana menarik napas panjang. “Lelah fisik, tentu saja, Pak. Tapi jujur, ada ragu yang sesekali mengganjal. Apakah semua data yang kita kumpulkan ini akan ada artinya? Kita mendata 166 lubang, lalu apa? Apakah besok birokrasi akan langsung tergerak menambalnya?”
Pertanyaan Kirana mewakili keheningan yang tiba-tiba menyergap teman-temannya. Menghadapi tebalnya tembok birokrasi terkadang memang terasa seperti menggantang asap.
Pak Baskoro duduk di tengah mereka. Tatapannya menelusuri satu per satu wajah para mahasiswa tersebut dengan penuh makna.
”Dunia ini tidak akan pernah berubah hanya dengan modal amarah, teman-teman,” ucap Pak Baskoro pelan, namun tegas membelah kesunyian. “Selama ini, kita terlalu terbiasa dengan pola advokasi konvensional. Kita protes, kita mengeluh jalanan rusak. Tapi ketika ditanya secara presisi di mana letaknya, seberapa parah, kita kebingungan. Harap kalian ingat, kita sedang memperkenalkan evidence-based advocacy. Advokasi berbasis bukti.”
Ia menghentikan kalimatnya sejenak, membiarkan makna itu meresap. “Kita tidak lagi sekadar menyuarakan protes tanpa dasar. Ekspedisi Jalan Rusak ini adalah bentuk partisipasi publik yang konstruktif. Harapannya satu; dengan data faktual dan peta yang jelas, pemerintah daerah tidak lagi memiliki alasan untuk menunda perbaikan.”
Mata Kirana perlahan berbinar. Kata-kata itu laksana embun yang menyapu debu keputusasaan di benaknya.
”Teman-teman akan mengubah angka-angka mati ini menjadi inovasi digital bernama Peta Jalan Rusak,” tambah Umar sambil tersenyum. “Visualisasi spasial ini akan menjadi senjata kita. Ditambah lagi, dokumentasi video kalian akan diunggah secara berkala melalui akun jejaring sosial resmi @pelitawarga.or.id. Biarkan publik melihatnya.”
Beban di pundak Fajar, Haris, dan Hakim mendadak terasa ringan. Lelah mereka kini memiliki tujuan yang teramat mulia. Kirana menyadari satu pelajaran berharga; keterlibatan mereka di sini adalah wujud nyata pengabdian. Mahasiwa tidak boleh hanya bersembunyi di balik buku tebal, mereka harus peka terhadap persoalan sosial dan menggunakan kecakapan digital untuk menciptakan perubahan berdampak.
Di masa depan, Lembaga Pelita Warga telah merencanakan langkah besar. Peta itu akan disebar luaskan secara masif melalui berbagai platform media sosial kepada jurnalis, akademisi, tokoh agama, hingga pemengaruh lokal. Tidak berhenti di jalan rusak, model inovatif ini akan direplikasi untuk mengawasi persoalan sampah, penerangan jalan, drainase, hingga meluas ke luar wilayah kota demi tata kelola kota yang transparan.
Sore itu, memandang langit kota yang mulai meremang senja, Kirana tersenyum. Ia tahu, memperbaiki jalan kota, pada hakikatnya, adalah memperbaiki urat nadi peradaban itu sendiri. Dan mereka, berselimut peluh dan keyakinan, telah berani mengambil langkah pertama.
Tamat













