Agama dan Kepercayaan Adalah Hal Wajib Yang Harus Kita Hargai. Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia sepertinya sering bergejolak dan berseteru dengan dalih agama. Seolah mereka lupa bahwa Indonesia adalah negara yang dibentuk di atas sebuah keragaman. Sebagian orang berpikir bahwa agama mereka adalah yang paling baik dan benar, sedangkan sebagian kecil lainnya pun berpikiran serupa. Padahal mereka sama-sama meyakini bahwa Tuhan itu Esa.

Agama dan Kepercayaan Adalah Hal Wajib Yang Harus Kita Hargai (Pict taken from Qureta.com)
Miris memang, namun begitulah adanya. Masyarakat di Indonesia kurang memiliki rasa toleransi yang baik terhadap agama dan kepercayaan sesamanya, jadi wajar saja jika isu agama adalah salah satu hal vital yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Tak terkecuali di Brebes, salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah. Di sana ada Sapta Darma, sebuah aliran kepercayaan yang hingga kini usianya sudah lebih dari 50 tahun berdiri. Memiliki pengikut yang tak sedikit, dan tersebar hampir di seluruh pulau Jawa. Mungkin terdengar familiar dengan istilah Sapta Darma. Karena memang ada beberapa istilah serupa dan diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya Tujuh Kewajiban Suci.
Para penganut Sapta Darma yang boleh dibilang minoritas ini, merasakan sekali bagaimana diskriminasi yang mereka terima. Baik itu dari lingkungan mereka tinggal, bahkan dari oknum pemerintah setempat. Padahal aliran kepercayaan ini sudah tercatat dengan resmi di Kementerian Agama, dan dengan begitu pemerintah telah mengakui adanya aliran kepercayaan ini. Keberadaan aliran kepercayaan ini otomatis mendapat perlindungan dan pengakuan dari pemerintah. Namun sayang, pada prakteknya di keseharian, masyarakat penganut Sapta Darma tetap memperoleh diskriminasi.
Beberapa diskriminasi dan kontroversi yang dialami oleh penganut Sapta Darma antara lain adalah seputar perolehan hak kependudukan dan hak untuk mendapatkan fasilitas pemakaman yang layak. Bahkan pada tanggal 11 Oktober 2008, Front Pembela Islam merusak rumah milik salah seorang penganut Sapta Darma yang dijadikan sanggar di Dusun Pereng Kembang, Desa Balecatur, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, karena Sapta Darma dianggap sebagai aliran sesat. Sedangkan pada tanggal 7 Desember 2014, seorang warga penganut Sapta Darma yang meninggal dunia di Desa Siandong, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tidak diizinkan untuk dimakamkan di pemakaman umum desa setempat. Sehingga dimakamkan di pekarangan rumahnya hingga saat ini. Padahal kita tahu bahwa pemakaman umum tidak dibuat khusus untuk penganut agama tertentu, melainkan agama apapun.
Sikap menghakimi, rendahnya rasa toleransi antar uma beragama di Indonesia kian memburuk. Bahkan kini menjadi salah satu senjata yang digunakan dalam dunia politik nasional. Miris sih, tapi apa boleh buat, begitulah masyarakat terbutakan oleh sikap fanatik sempit yang seringkali merugikan orang lain tanpa mereka sadari. Oleh karena itu Agama dan Kepercayaan Adalah Hal Wajib Yang Harus Kita Hargai.








