Standar Organik dan Penggunaan Pestisida di Indonesia

Standar Organik dan Penggunaan Pestisida di Indonesia
Standar Organik dan Penggunaan Pestisida di Indonesia

Salah satu sudut pertanian di Indonesia

Standar Organik dan Penggunaan Pestisida di IndonesiaStandar organik saat ini menjadi suatu hal yang sedang banyak diperbincangkan. Dalam konteksnya, pertanian organik akan menghasilkan produk pangan yang lebih baik. Sedangkan lahirnya pertanian organik dipengaruhi oleh 3 hal penting, mulai dari kesadaran dalam bertani yang harus ramah lingkungan, residu atau bahan beracun pada produk pertanian, dan juga aspek ekonomi yang menjadi daya saing. Jadi, kenapa produk organik bisa dan harus lebih mahal dengan produk yang tidak organik. Karena petani organik ini dianggap sebagai “pahlawan lingkungan” jadi wajar jika penghargaan dari konsumen lebih tinggi. Jadi, kita tidak bisa menentukan harga produk organik semata hanya berdasarkan perhitungan analisa ekonomi saja.

Sedangkan mengenai keamanan pangan, kita tentu saja sering menemukan produk yang berpestisida, bahkan ada 80% pestisida yang diterapkan pada tanaman itu diserap oleh lingkungan, sedangkan hanya 20% saja yang bermanfaat untuk pencegahan hama. Banyak produk konsumsi yang mengandung pestisida di pasaran, mulai dari beras berpestisida, telur, ayam yang banyak mengandung hormon. Konsumsi makanan tersebut sangat berbahaya bagi tubuh.

Dalam pertanian, masalah utama yang sering dihadapi petani adalah hama. Standar Organik dan Penggunaan Pestisida di Indonesia. Jadi mereka pun mencari cara pintas membasminya menggunakan pestisida, namun sayangnya pestisida yang digunakan adalah pestisida non organik. Bahkan dalam penggunaannya untuk tanaman sayuran, dosis penggunaan pestisida 2-3 kali dari dosis yang seharusnya, dengan intensitas penyemprotan yang ditingkatkan.  Jadi jika boleh dibilang, penyemprotan berubah menjadi penyiraman.

Standar Organik dan Penggunaan Pestisida di Indonesia. Adapun hasil penelitian dari Balitbang Pertanian Jawa Tengah menyatakan bahwa residu pestisida terdeteksi di darah petani, tanah, air, air untuk minum, padi, dan sayuran. Jadi tak heran jika petani yang melakukan penyemprotan pun mengalami pusing, mual, dll. Sepertihalnya kasus penelitian di Brebes terhadap anak SD, bahwa anak SD yang terpapar pestisida cukup banyak, dengan gejala pembengkakan kelenjar tiroid atau gondok. Hal ini pun jelas mempengaruhi sistem belajar dan prestasi belajarnya. Dan hal ini mempengaruhi keturunan selanjutnya. Parahnya lagi, dampak pestisida dapat mempengaruhi hormon dan juga jenis kelamin, baik pada manusia ataupun hewan. Oleh karena itu munculnya gangguan hormon karena pestisida sangat berbahaya.

Keamanan Pestisida di Indonesia adalah jika sudah memenuhi ADI (Acceptanece Daily Intake) maka bisa dianggap aman. Namun sayangnya yang diuji hanya kepada satu jenis pestisida, padahal di lingkungan atau makanan mengandung beberapa jenis pestisida. Jadi berhati-hatilah menggunakan pestisida, campuran pestisida bisa menjadi aditif, antagonis (tidak memunculkan efek sama sekali), atau bersinergis (menjadi berlipat ganda efeknya).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment