Bukan Sekadar Protes: Inovasi Advokasi Digital LPPSLH yang Mengubah Cara Warga Memperjuangkan Haknya

WhatsApp Image 2026-02-27 at 14.53.21

Purwokerto, Januari 2026 — Warga sudah lama frustrasi dengan jalan berlubang yang tak kunjung diperbaiki. Kali ini, mereka tidak hanya mengeluh. Mereka membuat peta.

Selama ini, advokasi publik di Indonesia terjebak dalam dua pilihan. Pertama, demonstrasi di jalanan yang mudah diabaikan. Kedua, petisi online yang ramai sesaat lalu tenggelam.

LPPSLH hadir dengan pilihan ketiga. Mereka menggagas evidence-based advocacy — advokasi berbasis bukti nyata. Hasilnya adalah “Peta Jalan Rusak Purwokerto” yang kini menjadi model baru advokasi infrastruktur di Indonesia.

Apa Itu Evidence-Based Advocacy?

Advokasi berbasis bukti punya prinsip sederhana: sebelum menuntut, kumpulkan data. Sebelum bersuara, kuasai fakta.

Konsep ini bukan hal baru di dunia akademik. Namun LPPSLH menerapkannya langsung di lapangan bersama masyarakat.

Mulai 15 hingga 21 Januari 2026, tim gabungan LPPSLH dan mahasiswa PPL Angkatan 29 UIN Saizu turun ke jalan. Mereka menyisir seluruh ruas jalan utama dan penghubung strategis di Kota Purwokerto. Setiap titik kerusakan mereka catat, foto, dan beri koordinat GPS secara langsung.

🔬 Metode Survei Ekspedisi Jalan Rusak Purwokerto

  • Periode: 15–21 Januari 2026 (7 hari intensif)
  • Cakupan: Seluruh jalan utama & penghubung strategis Kota Purwokerto
  • Metode: Survei lapangan real-time dengan GPS
  • Dokumentasi: Foto + video di setiap titik kerusakan
  • Output: Peta digital interaktif + konten TikTok
  • Temuan: 166 titik lubang berbahaya

👥 Tim Ekspedisi Jalan Rusak Purwokerto

Pimpinan LPPSLH:

  • Dr. Barid Hardiyanto (Direktur LPPSLH)
  • Untung Famuji, S.Sos (Peneliti LPPSLH)

Mahasiswa PPL29 UIN Saizu:

  • M Faqih Janki Dausat
  • Husni Mubarok
  • Muhamad Hafid Rias
  • Irfatul Azqiah
  • Laelatul Isnaeni
  • Nurul ‘Izah
  • Fadlah Awaliyah

166 Titik: Angka yang Tidak Bisa Dibantah

Hasil survei tujuh hari itu mengejutkan. Tim menemukan 166 titik lubang di berbagai ruas jalan Purwokerto.

Ini bukan estimasi. Ini bukan kabar dari mulut ke mulut. Ini data terverifikasi dengan koordinat akurat yang bisa dicek oleh siapapun.

Tingkat kerusakannya beragam. Ada lubang kecil yang membuat pengendara was-was. Ada pula lubang besar dan dalam yang benar-benar berbahaya — terutama saat malam hari atau hujan deras.

“Kita tidak lagi sekadar berteriak atau memprotes tanpa dasar. Kami menyajikan data faktual dan peta yang jelas kepada pemerintah daerah. Dengan bukti visual dan koordinat yang akurat, pemerintah tidak lagi punya alasan menunda perbaikan.”— Dr. Barid Hardiyanto, Direktur & Peneliti Senior LPPSLH

Tiga Pilar Inovasi: Peta, Video, dan Media Sosial

LPPSLH tidak hanya mengumpulkan data. Mereka juga memastikan data itu sampai ke publik dan pengambil keputusan. Caranya melalui tiga pilar komunikasi.

  1. Peta Digital Interaktif. Data lapangan diolah menjadi Peta Jalan Rusak Purwokerto. Peta ini menampilkan sebaran 166 titik kerusakan secara visual. Pemangku kebijakan bisa langsung melihat ruas mana yang paling kritis.
  2. Dokumentasi Video. Tim merekam kondisi setiap titik krusial. Video diunggah berkala melalui akun TikTok resmi @lppslh.or.id. Penonton bisa melihat langsung kondisi jalan yang rusak.
  3. Penyebaran Multi-Platform. Data dan peta disebarkan lewat Instagram, TikTok, Facebook, dan WhatsApp Group. Jangkauannya luas — dari jurnalis, akademisi, tokoh agama, hingga influencer lokal.

Mahasiswa sebagai Pelaku Perubahan, Bukan Penonton

Tujuh mahasiswa PPL Angkatan 29 UIN Saizu terlibat aktif dalam gerakan ini. Mereka bukan sekadar memenuhi syarat akademis. Mereka adalah motor penggerak di lapangan.

Irfatul Azqiah menegaskan hal itu. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa adalah bukti nyata pengabdian masyarakat. Mahasiswa bisa menggunakan kemampuan digital mereka untuk menghasilkan perubahan konkret.

Ini adalah model penting. Kampus tidak hanya mencetak lulusan siap kerja. Kampus juga harus mencetak warga negara yang aktif dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Dari Purwokerto untuk Indonesia: Visi Replikasi

LPPSLH tidak berhenti di Purwokerto. Gerakan ini dirancang sebagai pilot project yang bisa direplikasi di mana saja.

🚀 Rencana Pengembangan Model Advokasi Digital LPPSLH

  • Perluasan wilayah — tidak hanya Kota Purwokerto, tapi seluruh Kabupaten Banyumas
  • Isu sampah — pemetaan titik pembuangan liar dan TPS bermasalah
  • Penerangan jalan umum — identifikasi ruas gelap yang rawan kejahatan
  • Drainase & banjir — pemetaan titik genangan dan saluran tersumbat
  • Akses air bersih — pemantauan kualitas dan distribusi air di wilayah terpinggirkan

Ketika warga punya data, teknologi berpihak pada publik, dan kampus bergandengan dengan masyarakat sipil — demokrasi benar-benar bekerja dari bawah.

Sekarang: Bola Ada di Tangan Pemkab Banyumas

Peta sudah dibuat. Data sudah terkumpul. Bukti visual sudah tersebar luas.

Kini tinggal satu pertanyaan: apa respons Pemerintah Kabupaten Banyumas?

LPPSLH mendesak Pemkab Banyumas untuk segera bertindak. Bukan janji. Bukan wacana. Tapi perbaikan nyata di lapangan.

Dengan 166 koordinat yang sudah tercatat dan publik yang kini mengawasi, tidak ada lagi ruang untuk diam.

Warga tidak lagi hanya mengeluh — mereka membuktikan. Tidak hanya meminta — mereka mendesak dengan data. Tidak hanya berharap — mereka mengawal.


LPPSLH — Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup
Purwokerto, Jawa Tengah  |  www.lppslh.or.id  |  TikTok: @lppslh.or.id
Sumber berita: Event Purwokerto

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses