Indonesia tanah airku…

Indonesia tumpah darahku…

Sebagai orang Indonesia, kalimat-kalimat di atas sepertinya sudah tak asing lagi kita dengar. Mulai dari ungkapan akan rasa kebanggaan kita terhadap negeri ini, hingga pada rasa kecintaan yang kadangkala juga muncul dalam benak masyarakat Indonesia.

Tak berlebihan kiranya jika di atas disebut kadangkala, karena kita menyadari bahwa rasa kecintaan mayoritas masyarakat Indonesia terhadap tanah air saat ini mulai menipis. Apalagi dengan berbagai pergeseran sistem sosial di masyarakat yang seringkali tak sesuai dengan dasar jiwa bangsa Indonesia. Mulai dari pengaruh masuknya budaya luar negeri yang tak dapat disaring dengan baik, hingga kurangnya kesadaran masyarakat sendiri akan rasa kecintaannya terhadap tanah air atau yang kita kenal dengan istilah nasionalisme.

Bahkan mengenai kebanggaan masyarakat Indonesia sendiri terhadap bangsanya ini yang masih dipertanyakan. Karena hal itu tercermin dari perilaku masyarakat Indonesia yang lebih senang dan bangga menggunakan produk bangsa lain daripada produk dalam negeri. Tak hanya kebanggaan, keteguhan hati masyarakat pun seringkali mudah digoyahkan oleh berbagai pengaruh yang ada, baik dari dalam atau pun dari luar diri bangsa Indonesia. Hal-hal seperti inilah yang kemudian memunculkan rasa minder dalam diri bangsa Indonesia jika berhadapan dengan bangsa-bangsa lain, apalagi dengan predikat negeri terkorup yang tak jarang disandang oleh bangsa Indonesia.

Nah, sekarang bagaimana cara kita membangun Indonesia yang mempunyai kebanggaan, keteguhan, tidak minder, dan malu untuk korupsi?

Sekilas telah disinggung di atas mengenai rasa kecintaan. Pada dasarnya rasa kecintaan untuk mewujudkan inklusi sosial inilah yang mampu mewujudkan kebanggaan dan keteguhan kita terhadap bangsa Indonesia, dan kecintaan jugalah yang mampu membuat masyarakat tidak minder dengan bangsanya, serta malu untuk korupsi. Karena rasa kecintaan akan membuat setiap orang mempunyai rasa memiliki, yang secara tidak langsung perasaan memiliki ini akan mendorong kita untuk melakukan hal terbaik untuk apa yang dimilikinya.

Akan tetapi, banyak hal pula yang harus dilakukan untuk mewujudkan inklusi sosial dan semua itu. Terlebih jika kita menilik negeri ini yang kini telah memasuki usia 73 tahun, dengan sekelumit latar belakang pendiriannya yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Mungkin, dahulu rasa kecintaan terhadap bangsa dapat kita wujudkan dalam bentuk perjuangan melawan penjajah, sedangkan saat ini kita dapat mewujudkannya dalam bentuk perjuangan dan pergerakan lain yang lebih mendukung kemajuan bangsa Indonesia. Karena, meski bangsa Indonesia telah merdeka, tapi penjajahan secara terselubung masih terus terjadi, baik dalam bidang pemerintahan, perdagangan, dan berbagai hal lain yang seringkali dimonopoli oleh bangsa lain terhadap bangsa Indonesia.

Ada baiknya, kita bisa melakukan pemberdayaan masyarakat agar masyarakat Indonesia lebih maju lagi dan tak mudah untuk diprovokasi, mulai dari provokasi teknologi, politik, dan juga provokasi lain yang mampu mendatangkan efek negatif. Ingat, kita bangsa Indonesia, penuh martabat, bukan sapi perah.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *