Ironisnya, Sangat Jarang Keluarga Petani Yang Ingin Anaknya Jadi Petani – Pandangan pesimis mengenai masa depan dunia pertanian telah dituliskan sejak lama. Salah satunya adalah Elson dalam bukunya The End of The Peasantry in Southeast Asia (1997). Bryceson dalam bukunya Disappearing Peasantries (1999) juga mengulas soal masa depan pertanian di Asia, Afrika dan Latin Amerika dari sudut pandang pesimis mengenai masa depan pertanian yang semakin memudar.

Pandangan tersebut didasarkan pada kurangnya pemberdayaan masyarakat petani dan kondisi pertanian saat ini yaitu menyempitnya lahan pertanian dan keengganan para pemuda untuk bekerja di bidang pertanian, baik on farm maupun off farm dan lebih memilih untuk mencari penghidupan di kota. Di sisi lain, desa dan pertanian telah dan akan terus menjadi sasaran eksploitasi kekuatan pasar dunia yang pada akhirnya hanya menguntungkan segelintir pihak saja dari kalangan pemodal dan penguasa. Tekanan pada pedesaan dan pertanian, datang dari berbagai arah. Salah satunya adalah luas lahan untuk pertanian yang semakin sempit, terutama di pulau Jawa. Ada beberapa penyebab menyempitnya lahan pertanian ini, antara lain karena bertambahnya populasi sehingga lahan pertanian susut untuk lahan tempat tinggal.

Suramnya masa depan pemberdayaan masyarakat pertanian juga muncul dalam sektor pertanian gula kelapa. Hal ini nampak dalam usaha pengolahan gula kelapa di Wilayah Barlingmascakeb yang meliputi Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Kebumen. Hasil penelitian LPPSLH menunjukkan bahwa 59% petani gula kelapa berusia antara 46 – 65 tahun. Dari sisi generasi muda, hanya 0,4% petani yang berusia dibawah 25 tahun. Diperkirakan 10 – 20 tahun lagi, sudah tidak akan ada lagi petani yang menyadap nira kelapa atau mengelola bisnis gula kelapa di Barlingmascakeb. Ironisnya, sangat jarang keluarga petani yang menginginkan anaknya bergelut di sektor pertanian. Rata-rata mereka justru mendorong anaknya untuk masuk ke sektor non farm seperti menjadi buruh di kota. Kalau sudah begini bagaimana masa depan kerajaan pertanian kita?

Padahal wilayah Barlingmascakeb memang merupakan sentra gula kelapa di Indonesia. Data LPPSLH menunjukkan pada tahun 2016, luas lahan kelapa di Barlimascakeb mencapai 19.083 ha, dengan total produksi gula kelapa 179.387,98 ton/tahun. Jumlah tersebut didapatkan dari 86.881 orang petani gula kelapa (laki-laki dan perempuan) yang tersebar di seluruh Barlingmascakeb. Menurunnya jumlah petani yang membuat gula kelapa akan berdampak pada menurunnya produksi gula kelapa di Barlingmascakeb. Matinya minat generasi muda pada sektor pertanian juga akan berdampak bukan hanya ke perekonomian desa, namun juga bagi masyarakat di perkotaan. Data FAO menunjukkan bahwa 70% masyarakat tinggal di wilayah pedesaan dan menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Mereka ini yang memberikan pasokan makanan bagi masyarakat perkotaan. Jika tidak ada lagi yang bertani, maka tidak akan ada lagi supply makanan untuk masyarakat perkotaan.

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *