Konsep Ketuhanan dalam Budaya Jawa

Published by LPPSLH on

Konsep Ketuhanan dalam Budaya Jawa – Bung Karno dan para pendiri Negara ini sudah benar serta tepat dengan meletakkan Pancasila sebagai dasar Negara. Bukan berdasarkan suatu agama.

Sila pertama Pancasila : Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bagaimana definisi tuhan dalam Pancasila ?

Bagaimana konsep ketuhanan dalam Pancasila ?

Dasar penggunaan kata “Esa” dan kenapa tidak digunakannya kata “Eka” ?

Sedangkan bahasa jawa kawi, Eka artinya satu sedangkan Esa artinya bukan satu. Karena itu mari kita renungkan dan dikaji bersama. Karena ketidakmampuan kita semua memaknai dan mengamalkan Pancasila inilah yang menjadikan Bangsa ini terpuruk. Banyak diantara kita yang Beragama tetapi tidak Bertuhan dengan benar.

Dalam kalimat ini tidak memakai kata “EKA” tetapi memamakai kata “ESA” karena bangsa kita sudah jauh hari memahami dan mengenal esensi Tuhan dan konsep ke-Tuhanan. Leluhur kita memahami kalau Tuhan bukanlah bilangan atau sesuatu yang bisa di hitung seperti layaknya materi. Sehingga menurut pemahaman leluhur kita kalau Tuhan itu bukan “EKA” (Satu), tetapi Tuhan itu adalah “ESA” Tuhan itu bersifat “ESA”(Tunggal & Manunggal). Tuhan itu bukan sesuatu yang tidak terpisahkan dari alam semesta. Tuhan itu bukan sesuatu yang diatas atau jauh serta berjauhan dari alam semesta.

Karena NKRI berdasarkan Pancasila, Bukan berdasarkan Agama tentunya aparat atau penyelenggara Negara juga tidak beragama, tetapi individu pribadinya boleh beragama. Sehingga seorang individu berposisi sebagai petugas negara seharusnya tidak memakai atribut agama apapun, tetapi ketika berposisi sebagai individu pribadi dia boleh beragama dan mengunakan atribut agamanya.

Ketidakmampuan kita mengaktualisasikan dasar Negara Pancasila dengan baik dan benar inilah menjadi penyebab keterpurukan bangsa ini. Untuk membangun bangsa ini kembali, kita perlu menguatkan dasar negara Pancasila sebagai dasar NKRI.

Leluhur kita sudah mengenal esensi Tuhan dan konsep ketuhanan ribuan tahun sebelum Masehi. Salah satu buktinya adalah ditemukannya Prasasti Punden Berundak yang berusia ribuan tahun Sebelum Masehi, maupun bukti lain yaitu dalam masyarakat Jawa ketika memulai dan mengakhiri doa, termasuk dalam berbagai upacara tradisi (wilujengan, ruwatan, larungan,dll)  selalu melantunkan mantra atau doa HONG WILAHENG SEKAR BAWANA LANGGENG, yang memiliki makna :

Hang : dari asal kata “Ha” yang merupakan aksara Jawa yang pertama dan “Nga” yang merupakan aksara Jawa yang terakhir. Bermakna esensi Tuhan adalah sesuatu yang permulaan dan yang terakhir. Dalam bahasa agam Nasrani : “Aku adalah Alfa dan Omega”. Dalam bahasa agama Islam : “Allah adalah Awalun wal Akhirun”

Wilaheng : dari kata “Wilah” dan “Heng”. Wilah bermakna adalah petunjuk, sedangkan Heng adalah sama dengan Hung, Hing dan Hang, artinya seperti yang diatas.

Sekar : Bermakna Bunga atau yang menghiasi dunia hanyalah Hang (Tuhan). Seluruh mahluk hidup didunia khususnya manusia dan hewan berasal dari bunga atau Lingga-Yoni, serta mengkonsumsi bunga.

Bawana : Bermakna alam semesta atau micro cosmos dan macro cosmos yang merupakan kuasa Hang (Tuhan).

Langgeng : Bermakna Kekal, artinya Hang (Tuhan) Bersifat Kekal.

Sedangkan Aksara Jawa pertama kali dikenalkan oleh Mpu Hubayun pada tahun ± 911 SM (Sejarah Aksara & Kalender Jawa : what–is–Java.org).

 

Oleh: KRAT. Sutrimo RB, SE., MM.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.