,

Pelatihan Gender Mainstreaming and Woman Empowerment Untuk Petani Gula Di Banyumas

Pelatihan Gender Mainstreaming and Woman Empowerment Untuk Petani Gula Di Banyumas – Dalam sebuah rumah tangga petani gula, wanita biasanya diberikan tanggung jawab untuk menyiapkan laru, menyiapkan kompor yang digunakan untuk memasak gula kelapa, peralatan masak bersih yang digunakan untuk melakukan transaksi dan pencatatan penjualan gula. Selain itu wanita masih terbebani dengan tugas rumah tangga seperti memasak, memandikan anak, menemani anak belajar dan menciptakan pekerjaan rumah serta tugas sosial kemasyarakatan lainnya. Dalam konteks petani gula kelapa, pekerjaan ini sering dianggap sebelah mata dan tidak dianggap sebagai bagian dari usaha produktif.

Pelatihan Gender Mainstreaming and Woman Empowerment Untuk Petani Gula Di Banyumas

Foto bersama seluruh peserta dan fasilitator seusai pelatihan Gender Mainstreaming and Woman Empowerment

Akibatnya, posisi tawar dalam rumah tangga dan struktur ekonomi yang lebih luas menjadi lemah. Padahal petani wanita tak lain adalah pekerja yang mampu menghasilkan pendapatan keluarga, hal yang sama juga terjadi pada wanita yang membuka warung atau bisnis lainnya. Hal ini disebabkan masih kurangnya pemahaman tentang analisis gender dalam rumah tangga, terutama dalam membuat gula kelapa pada tingkat petani.

Pelatihan Gender Mainstreaming and Woman Empowerment Untuk Petani Gula Di Banyumas

Para ibu diajarkan bagaimana cara membuat laru organik yang aman

Pelatihan Gender Mainstreaming and Woman Empowerment Untuk Petani Gula Di Banyumas. Meski sering tidak dipandang, wanita memiliki peran yang sangat penting tidak hanya dalam proses pembuatan gula tapi juga dalam pencatatan transaksi keuangan. Ketelitian wanita dalam pembukuan keuangan, baik dari segi produksi gula kelapa maupun keuangan rumah tangga sering menjadi penyelamat ekonomi rumah tangga petani yang bersangkutan. Sebagai pegawai rumah tangga keuangan, wanita biasanya cukup jeli melihat peluang ekonomi baik dalam mencari cara meningkatkan pendapatan atau dari sisi seberapa menekan biaya. Dalam hal ini, peran wanita sebagai pengelola keuangan rumah tangga menjadi sangat penting. Sayangnya hal ini seringkali tidak dilakukan dengan benar oleh wanita, yang mengakibatkan tidak adanya usaha pencatatan dan kebutuhan hari ini, yang kurang mempengaruhi upaya pengembangan pembuatan gula kelapa.

Pelatihan Gender Mainstreaming and Woman Empowerment Untuk Petani Gula Di Banyumas

Fasilitator kelas dalam pelatihan mampu membuat peserta lebih antusias

Untuk itulah kami merasa perlu melakukan pengarusutamaan jender pendidikan pada rumah tangga petani di Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purbalingga. Pendidikan gender penting untuk membangun kesadaran bahwa apa yang wanita di rumah tangga juga memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat meningkatkan pendapatan bagi keluarga serta mengurangi pengeluaran untuk keluarga. Pendidikan gender juga mencakup pengembangan kapasitas bagi wanita dalam melakukan pembukuan akuntansi dan keuangan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari serta pengembangan gula kelapa.

Betajuk Gender Mainstream and Woman Empowerment, pelatihan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk pendidikan pengarusutamaan gender untuk gula kelapa rumah tangga petani, serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani wanita tentang pembukuan keuangan dalam transaksi gula kelapa, dan juga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani wanita dalam pengelolaan dan penciptaan laru organik.

Adapun sasaran pelaksanaan pelatihan pengarusutamaan gender dan pemberdayaan wanita adalah mereka penerima manfaat atau target adalah petani yang terlibat dalam proyek GIZ Haldin IPPP, bersam tim LPPSLH. Dengan jumlah peserta untuk setiap pelatihan adalah 35 orang dengan komposisi 70% terdiri dari peserta wanita dan 30% terdiri dari peserta laki-laki ini dilaksanakan selama dua hari yaitu pada tanggal 24 hingga 25 September 2017.

Pelatihan ini akan dimulai pada siang hari, pukul 14.00. Hal ini disebabkan wanita, memiliki tugas memasak gula di pagi hari dari pukul 08.00 sampai 12.00, tergantung berapa volume gula yang mereka masak. Selain materi dan simulasi yang diberikan oleh orang yang diwawancarai, pelatihan yang dihadiri juga oleh perwakilan dari GIZ, Vivi Octavianty dari bidang Pertanian dan Alexander Ihrcke dari bidang Woman Empowerment. Selama proses acara juga diselingin dengan permainan sehingga peserta tidak kaku selama proses pelatihan.

Hal lain yang juga dilakukan dalam pelatihan adalah meningkatkan kemampuan wanita dalam pengelolaan pengelolaan dan penciptaan laru secara alami. Seperti yang telah diketahui laru merupakan komponen penting dalam proses pembuatan gula kelapa. Laru alami, bersih, berkualitas baik dan bisa mencegah fermentasi dalam molase yang merupakan komponen utama pembuatan gula kelapa.

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *