,

Tantangan Besar Dalam Upaya Masyarakat Melestarikan Hutan

Tantangan Besar Dalam Upaya Masyarakat Melestarikan Hutan – Dalam dua dasawarsa terakhir ini, bidang politik dan ekonomi di Indonesia dipandang sebagai dia bidang yang paling utama, sehingga perhatian masyarakat dan pemerintah juga sangat dominan tercurah pada dua bidang ini. Padahal, bidang yang tidak kalah pentingnya adalah budaya dan lingkungan, yang belum mendapati perhatian serius dari masyarakat dan pemerintah.

Berbagai perusakan lingkungan, khususnya hutan banyak terjadi di sebagian besar hutan di Indonesia, hal itu pun terjadi seiring dengan maraknya kasus illegal logging. Akibatnya, perusakan terhadap hutan ini tidak hanya turut memicu pemanasan global atau global warming, namun dampak paling konkret dan parah lagi adalah terjadinya musibah banjir di mana‐mana dalam musim penghujan yang mengusik kenyamanan hidup.

Banyak hutan di Indonesia yang sekaligus juga telah berstatus sebagai kawasan hutan lindung dan taman nasional. Bisa dibilang itu merupakan sebagian kecil hutan di Indonesia yang ternyata tidak mengalami perusakan. Kedua hutan ini keberadaannya tampak masih lestari dan asri di tengah masayarakat adat kawasan hutan tidak seperti halnya hutan‐hutan lainnya di Indonesia, yang kebanyakan mengalami perusakan.

Jadi, Tantangan Besar Dalam Upaya Masyarakat Melestarikan Hutan di Indonesia tersebut seringkali datang dari masyarakat lokal di sekitar hutan. Padahal kelestarian pengelolaan hutan sangat tergantung kepada partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan. Perambahan, illegal logging, pemanfaatan sumberdaya hutan yang tidak lestari adalah kegiatan yang tidak mendukung kelestarian hutan.

Masyarakat Indonesia dikenal dengan berbagai adat istiadatnya. Hukum adat tersebut beragam antara yang satu dan yang lain. Pemberlakukan hukum adat juga berlaku dalam pengelolaan hutan. Walaupun tidak dikenal secara formal, beberapa hukum adat telah diberlakukan dalam pengelolaan dan perlindungan hutan misalnya hukum adat masyarakat Dayak di Kalimantan Timur dalam mengelola hutan adat. Khususnya hukum adat Suku Dayak di Kalimantan Timur sangat berperan dalam mengelola dan melindungi hutan adat (Mulyoutami, et.al., 2009).

Menurut hukum adat dayak tanah yang diwariskan dari para orang tua akan turun temurun menjadi milik keturunannya. Ada alasan logis mengenai hal mengenai kepemilikan tanah masyarakat hukum adat dayak karena masyarakat hukum adat dayak melakukan pembukaan lahan dengan cara nomaden setelah tanah itu dikelola dan mereka menganggap tanah itu tidak subur maka tanah itu akan ditinggalkan bukan maksud untuk meninggalkan selamanya. Masyarakat dayak menanami lahannya secara rasional, mereka akan menanaminya lagi setelah lewat beberapa waktu lamannya. Batas-batas itu sudah diketahui. Di antara orang-orang dayak, patok-patok ditancapkan di setiap sudut petak tanah untuk menunjukan batas-batasnya. Tanda penguasaan tanah yang umum adalah adanya pondok, pohon-pohon, buah- buahan, dan pohon-pohon kayu keras. Bahkan, orang dihukum berdasarkan hukum adat apabila mereka tidak mentaati aturan-aturan penguasaan tanah, termasuk bila mereka menanami tanah- tanah kosong milik orang lain.

Jadi, ada manfaat yang bisa kita dapatkan saat hukum adat diterapkan dengan baik di tengah masyarakat. Karena melestarikan alam adalah tugas kita bersama, bukan hanya tugas pemerintah ataupun departemen kehutanan saja.

(Dari berbagai sumber)

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *