“Namaku Amel, Ini Pengalamanku Magang di LPPSLH”

Hai Sobat Berdaya, Perkenalkan nama saya Amalia Kusumawardani, akrab dipanggiil Amel. Saya ingin bercerita tentang pengalaman magang ku di LPPSLH, salah satu NGO di Purwokerto.  Pertama, saya berterima kasih LPPSLH atas kesempatan dan pembelajaran selama masa Magang.

LPPSLH ini merupakan LSM/NGO (Lembaga Swadaya Masyarakat Non Government Organization) yang memiliki banyak kegiatan melakukan pemberdayaan masyarakat. Alasan saya memilih magang di LPPSLH yaitu untuk menambah pengalaman terutama dalam memberdayakan masyarakat. Selain itu rasa penasaran saya ingin tahu kegiatan apa saja yang ada di LSM LPPSLH. Selama saya berkegiatan di LPPSLH saya diperkenalkan tentang LSM dan kelembagaan LPPSLH; Seperti sejarah LSM, kegiatan dibidang Perkotaan dan Pedesaan, Teknik Fasilitasi terkait pemberdayaan masyarakat, dan teknik mengorganisir masyarakat.

Dibidang Pedesaan, LPPSLH sedang mengadakan proyek Sertifikasi Gula Organik di Desa Pasinggangan, Banyumas. Tujuan program ini yaitu untuk mendapatkan sertifikat organik dan produk dapat dieksport ke luar negeri. Dalam proses sertifikasi ini petani penderes gula di suatu daerah yang akan disertifikasi akan didata oleh tim ICS atau (Internal Control System). Setelah pendataan petani, lalu dilakukan survei tentang ceklis persyaratan terkait sertifikasi organik. Meliputi bagaimana kriteria lahan yang organik, bahan pembuatan gula yang organik, dapur dan alat memasak gula juga harus bersifat organik. Di sini saya sedikit mengetahui bahwa untuk sertifikasi organik itu tidak sembarangan, karena hasil gula yang sudah diolah dari petani akan diperiksa oleh Laboratorium di luar negeri. Produk Gula yang lolos sertifikasi organik  akan dieksport ke negara seperti negara Eropa, Amerika, dan Jepang. Saat berada di lapangan, saya juga belajar dan mengasah kemampuan komunikasi saya kepada masyarakat, serta bagaimana cara menggali lebih dalam terkait pembuatan gula dari setiap petani penderes yang saya jumpai. Setiap Penderes memiliki karakter yang cukup unik dan khas yang berbeda-beda.

Saya juga diberi kesempatan untuk mengunjungi Lapas Nusakambangan terkait Program Pemberdayaan Pengembang-biakkan Sapi. LPPSLH bekerjasama dengan Kementerian Hukum dan HAM. LPPSLH bekerjasama dengan Kemenkumham guna memberikan sarana atau wadah agar para narapidana lebih produktif dan menjadi bekal pengetahuan dan pengalaman selama menjadi warga binaan di Lapas Nusakambangan ini. Kegiatan yang berkaitan dengan LPPSLH yaitu pengembang-biakkan sapi pedaging. Saya mengamati ada sekitar total 70 ekor sapi yang ada di Nusakambangan, dan ada 42 ekor sapi Bali milik LPPSLH. Program selain pengembang-biakkan yaitu penggemukan sapi, dengan berbagai sistem pengolahan pakan untuk ternak sapi. Di Nusakambangan ada juga pabrik gula semut, petani Penderes yang didampingi yaitu dari warga lokal Nusakambangan sendiri.

Saya mendapatkan ilmu dan pengalaman baru mengenau Issue Reforma agraria. Awalnya, Saya tidak memahami apa itu reforma agraria. Setelah saya memahami realitas dilapangan, reforma agraria diartikan sebagai suatu penataan kembali (penataan ulang) susunan pemilikan, penguasaan, dan penggunaan sumber-sumber agraria (terutama tanah) untuk kepentingan masyarakat kecil (petani, buruh tani, tunakisma, dan lain-lainnya) secara menyeluruh dan komprehensif. Saya dan teman-teman magang diberi kesempatan untuk belajar bersama masyarakat secara langsung dengan aktifis reforma agraria nasional di Cipari, Cilacap, Jawa Tengah. Suatu kehormatan bisa dapat bertemu dengan Mbah Sugeng, aktifis reforma agraria nasional, dan teman-teman aktifis lainnya. Kami menginap di kediaman Mbah Sugeng di Kecamatan Cipari. Hari berikutnya saya dan teman-teman mengunjungi Kecamatan Wanareja, dimana disana terdapat lahan yang sedang diperjuangkan oleh teman-teman aktifis. Memang sebagian sudah berhasil diperjuangkan, namun masih ada sisa lahan yang masih harus diperjuangkan. Melihat semangat dan kesadaran masyarakat tentang reforma agraria dengan terbatasnya latar belakang pendidikan membuat saya terkagum. Sedangkan saya yang sudah sarjana pun masih belum peduli dan banyak mengerti tentang reforma agraria. Semoga semangat aktifis reforma agraria bisa menular kepada masarakat umum seperti saya ini untuk belajar dan membantu masyarakat kecil memperjuangkan haknya.

Di Program bidang Perkotaan, program yang sedang dijalankan oleh LPPSLH yaitu pencegahan virus HIV-AIDS. Kelompok sasaran untuk program ini yaitu, seperti WPS (Wanita Pekerja Peks), PENASUN (Pengguna Narkoba Jarum Suntik), dan LSL (Lakilaki Seks Laki-laki) karena berisiko tinggi dalam penularan HIV-AIDS. Pertama, saya berkesempatan berbincang dengan Petugas Lapangan penjangkau komunitas gay terkait HIV AIDS, bagaimana cara penularannya, bagaimana virus ini bekerja, dan cara penanganannya. Virus HIV-AIDS ini merupakan virus yang biasanya baru diketahui setelah 3 bulan tertular, selama 3 bulan ini dinamakan masa jendela. Untuk pengobatan saat sudah dinyatakan positif HIV disarankan untuk meminum ARV setiap hari agar tidak bertambah parah menjadi AIDS, jika sudah AIDS ini yang berbahaya. Saya juga berkesempatan untuk mengikuti kegiatan VCT (Voluntary Counselling and Testing) di Puskesmas, VCT ini adalah test untuk mendeteksi virus HIV AIDS, TBC (Tuberculosis), dan IMS (Infeksi Menular Seksual).

Sekian cerita pengalaman magang dari saya. Pengalaman yang sangat menarik didalam hidup saya saat magang di LPPSLH. Semoga LPPSLH selalu sukses dan tetap melakukan pemberdayaan dan berpihak pada masyarakat marginal yang membutuhkan uluran tangan dari orang lain untuk mendapatkan hak-hak dasar sebagai warga Negara Indonesia.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.