LPPSLH - Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup

Perubahan Cara Pemberdayaan Gula Kelapa Dari Tahun Ke Tahun

Perubahan Cara Pemberdayaan Gula Kelapa Dari Tahun Ke Tahun

Perubahan Cara Pemberdayaan Gula Kelapa Dari Tahun Ke Tahun – Kita sudah tahu bahwa zaman sudah berubah. kita juga sudah paham bahwa gaya berjualan, berpakaian, bergaul, berbicara kita berbeda dengan orang tua kita. Tentu saja gaya anak-anak kita kelak juga akan jauh berbeda dengan gaya kita saat ini. Bila saat ini, di tahun 2015, ada seseorang yang datang dengan gaya ala 1980-an tentu kita akan bertanya-tanya. Apakah dia salah zaman? Apakah dia datang dengan mesin waktu? atau yang lebih parah orang itu akan dipertanyakan kewarasannya. Dari sisi orang yang bersangkutan, dia tentu saja akan merasa kesulitan membaur dengan khalayak umum yang saat itu bergaya tahun 2000-an.

Hal yang sama juga terjadi pada bisnis. Perubahan adalah sesuatu yang mau tidak mau harus kita terima, mau tidak mau, suka tidak suka. Konon di dunia ini hanya ada satu yang tidak berubah, yaitu perubahan itu sendiri. Perubahan ini tidak hanya menimpa pengusaha kecil dan gurem saja, namun hingga “usaha” sekelas BUMN. Ternyata perubahan zaman ke era digital juga membawa dampak besar ke perusahaan BUMN, salah satunya adalah PT Pos Indonesia.

Perubahan Cara Pemberdayaan Gula Kelapa Dari Tahun Ke Tahun

Perubahan Cara Pemberdayaan Gula Kelapa Dari Tahun Ke Tahun

Perubahan Cara Pemberdayaan Gula Kelapa Dari Tahun Ke Tahun LPPSLH Purwokerto menyadari betul mengenai hal ini ketika melakukan kegiatan pendampingan petani gula kelapa. Berkaca dari pengalaman pemberdayaan gula kelapa, LPPSLH Purwokerto mencoba merubah paradigma yang  sesuai dengan perkembangan zaman. Bila para era akhir 1990-an sampai awal 2000-an, seperti halnya LSM lain, LPPSLH juga berfokus pada konsep pertanian berkelanjutan. Technical Advisory Committee of The CGIAR (TAC/CGIAR 1988) menyatakan, “Pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam.

Dalam konteks yang lebih luas, (Gips, 1986) mengemukakan bahwa pertanian berkelanjutan mencakup hal hal seperti: (1) Mantab secara ekologis: Kualitas sumberdaya alam dalam dipertahankan dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan ditingkatkan. (2) Bisa berlanjut secara ekonomis: Petani bisa cukup menghasilkan untuk pemenuhan kebutuhan dan atau pendapatan sendiri, serta mendapatkan penghasilan yang mencukupi untuk mengembalikan tenaga dan biaya yang dikeluarkan. (3) Adil: Sumberdaya dan kekuasaan didistribusikan sedemikian rupa sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat terpenuhi dan hak-hak mereka dalam penggunaan lahan, modal yang memadai, bantuan teknis, serta peluang pemasaran terjamin. (4) Manusiawi: semua bentuk kehidupan dihargai. Serta (5) Luwes: Masyarakat pedesaan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usaha tani yang berlangsung terus.

Pada pelaksanaannya pada awal era tahun 2000-an kegiatan pertanian berkelanjutan yang dilakukan LSM LPPSLH lebih memfokuskan kegiatannya pada kegiatan pembenahan tata kelola lahan pertanian atau yang di kenal di kalangan aktivis LSM sebagai reforma agraria serta pembenahan tata produksi pangan yang terfokus pada tahapan budi daya pertanian. Perubahan Cara Pemberdayaan Gula Kelapa Dari Tahun Ke Tahun.

LSM LPPSLH terlibat dalam banyak kegiatan reforma agraria yaitu upaya agar para petani. Terutama petani gurem dan marginal memiliki akses dan kontrol untuk mendapatkan lahan yang layak bagi mereka. Lahan produktif yang dapat dijadikan tempat melakukan berbagai kegiatan budidaya pertanian. Bagaimanapun juga akses dan kontrol petani terhadap lahan pertanian merupakan hak dasar dan syarat pertama bagi terciptanya cita cita besar mendaulatkan petani sekaligus menyediakan bahan makan yang layak, sehat dan terjangkau bagi seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana mungkin ada hasil pertanian yang layak, sehat dan terjangkau bila para petani tidak memiliki lahan yang dia gunakan untuk bercocok tanam.

Perubahan Cara Pemberdayaan Gula Kelapa Dari Tahun Ke Tahun. Langkah selanjutnya adalah pembenahan tata produksi pangan. Dalam hal ini, LSM LPPSLH bersama dengan petani mencoba meningkatkan kualitas dan kuantitas produk pertanian. Pedekatan yang populer saat itu salah satunya adalah LEISA atau Low External Input and Sustainable Agricultural. Metode yang digunakan pun beragam, salah satunya adalah SL-PHT (Sekolah Lapang – Pengendalian Hama Terpadu). Dalam metode ini para pendamping lapangan LSM LPPSLH langsung terjun ke desa desa, melakukan proses belajar bersama dengan petani. Belajar mengenai bagaimana tata kelola pertanian yang lebih baik.

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Informasi Lainnya