prompt by Muhamad Adib*
Kabut pagi masih menggantung rendah di tajuk-tajuk pohon jati ketika Karta melangkah keluar dari gubuknya. Udara dingin khas lereng Gunung Slamet menyusup tak permisi lewat celah-celah baju flanelnya yang sudah pudar dan berbau asap tungku. Di tangannya, sebuah amplop cokelat besar dipeluknya erat, seolah amplop itu berisi nyawanya sendiri. Hari ini, Karta hendak berjalan kaki menuju kantor pos kecamatan. Ia, seorang wong alas, petani pinggiran hutan yang tangannya lebih akrab dengan gagang cangkul dan bilah parang, berniat sowan kepada orang nomor satu di republik ini.
Tentu saja sowan-nya Karta bukanlah datang bertamu ke istana megah berlantai pualam di ibu kota. Karta sangat tahu diri. Badannya bau asam keringat campur getah pinus, dan kakinya hanya beralas sandal jepit karet yang tapaknya sudah tipis tergerus kerikil. Terlebih, di masa paceklik akibat penyakit aneh yang membuat orang-orang harus menutupi separuh wajahnya dengan kain ini, perjalanan ke kota besar adalah kemustahilan belaka. Lagipula, Karta tidak tahu di mana persisnya letak Jalan Medan Merdeka. Baginya, alamat paling pasti di muka bumi ini hanyalah petak-petak hutan jati yang ia garap bersama kawan-kawannya sesama anggota lembaga pelestari hutan desa.
Amplop cokelat di pelukannya itu berisi sebuah buku tipis, lebih tepatnya tumpukan catatannya sendiri yang ia ketik dengan susah payah meminjam komputer butut di balai desa. Ia memberinya judul Napas Petani Hutan. Di dalamnya, tertuang peluh, air mata, dan harapan jutaan kawan-kawannya sesama wong alas di seluruh daratan Jawa. Mereka adalah orang-orang yang selama dua puluh tahun terakhir menjadi pagar hidup bagi hutan-hutan negara, bermitra dengan jawatan kehutanan, menanam jagung dan singkong di sela-sela pohon besar agar anak istri bisa makan.
”Mau ke mana pagi-pagi begini, Kang Karta?” sapa Yu Darmi, tetangganya yang sedang memanggul tenggok bambu berisi singkong cabutan.
”Ke kecamatan, Yu. Mau kirim surat,” jawab Karta seraya mengulas senyum tipis.
”Surat buat siapa to? Anakmu kan di rumah semua.”
”Buat Bapak Presiden di Jakarta, Yu.”
Yu Darmi tertawa terkekeh-kekeh, memperlihatkan giginya yang kemerahan karena kebiasaan mengunyah sirih. “Oalah, Kang, Kang! Wong alas kok ngimpi sowan Ratu. Suratmu itu nanti paling-paling cuma dibuang ke tempat sampah sama tukang sapu di istana sana. Sudah, mending lekas ke kebun. Babi hutan semalam turun lagi merusak ladang jagung kita.”
Karta hanya tersenyum maklum. Ia melanjutkan langkah menyusuri jalan makadam yang membelah kampung. Ejekan semacam itu bukan barang baru baginya. Orang kecil dilarang bermimpi besar, begitu kata pepatah tak tertulis yang diyakini orang-orang sedesanya. Namun, dada Karta dipenuhi oleh sesuatu yang lebih mendesak dari sekadar angan-angan kosong. Ia membawa jeritan bisu dari tanah yang dipijaknya.
Dalam buku tipis itu, Karta bercerita tentang betapa rentan dan murahnya nyawa seorang perawat hutan. Ia menulis tentang Pardi yang jatuh dari pohon damar dan kakinya pincang seumur hidup tanpa ada jaminan pengobatan dari siapa pun. Ia juga menulis tentang Mbah Karyo yang meregang nyawa dipatuk ular berbisa saat membersihkan semak belukar, meninggalkan seorang istri tua dalam kemiskinan yang kian mencekik. Wong alas tidak punya pelindung. Mereka menjaga paru-paru pulau ini agar tetap bernapas, tetapi napas mereka sendiri sering kali tersengal oleh jepitan kemiskinan dan ketertinggalan.
Telapak tangan Karta yang kasar bagai parut kelapa mengepal perlahan. Langkahnya makin mantap. Di kanan kirinya, hamparan pohon-pohon jati yang meranggas di penghujung musim kemarau seolah diam-diam ikut merestui perjalanannya. Karta tahu, Sang Pemimpin di ibu kota bukanlah orang yang asing dengan bau tanah basah dan serbuk gergaji. Presiden negeri ini, pikir Karta, adalah seorang rimbawan sejati. Seseorang yang masa mudanya dulu dihabiskan dengan mempelajari lingkar tahun pepohonan dan merawat bibit-bibit belia di persemaian. Karena itulah Karta punya secercah keberanian. Ia sangat yakin, sang pemimpin masih menyimpan memori tentang hutan di sudut hatinya yang paling jujur.
”Tolong kirimkan ini ke Istana Negara, Pak Pos,” kata Karta saat meletakkan amplop cokelatnya di loket kantor pos kecamatan yang masih lengang.
Petugas pos berkacamata tebal itu menatap amplop tersebut, lalu menaikkan pandangannya menatap wajah legam Karta. “Ke istana? Untuk Presiden?”
”Benar, Pak. Tolong pastikan sampai.” Karta merogoh saku celana pangsinya yang lusuh, mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan yang sudah lecek dan dilipat rapi, hasil dari menjual dua sisir pisang kepok ke pasar.
Sang petugas mengangguk pelan, seolah luluh oleh kesungguhan di mata laki-laki desa itu. Ia membubuhkan stempel pos dan menempelkan prangko di sudut amplop. “Semoga sampai dan sungguh dibaca ya, Pak.”
Keluar dari kantor pos, Karta menengadah menatap langit yang mulai benderang. Kicau burung kutilang terdengar merdu dari ranting pohon asam di tepi alun-alun. Dalam hati, Karta membayangkan perjalanan amplop itu. Ia akan dibawa melewati jalanan berdebu, melintasi puluhan kota, menembus deru mesin, hingga akhirnya tiba di balik gerbang istana megah yang dijaga tentara-tentara bertubuh tegap.
Ia membayangkan suatu pagi yang cerah di ibu kota. Sang Presiden sedang duduk di teras istana yang teduh. Di meja di hadapannya, terhidang secangkir jamu hangat racikan sang istri tercinta. Lalu, stafnya datang membawa setumpuk surat. Tangan Sang Presiden, yang mungkin sudah lama merindukan rabaan kulit kayu pinus, meraih amplop cokelat lecek kiriman seorang wong alas.
Pemimpin itu akan membuka sampulnya, lalu membaca baris demi baris Napas Petani Hutan. Beliau akan membaca tentang mimpi puluhan juta wong alas yang ingin hidup sejahtera lewat wana tani dan wana wisata tanpa secuil pun niat merusak kelestarian alam. Membaca tentang sebuah revolusi mental dari pinggiran hutan, tentang harapan merdeka dari belenggu kebodohan, serta rintihan perlunya jaminan sosial bagi mereka yang berkeringat demi hijaunya bumi pertiwi.
Karta tersenyum sendiri. Angin berhembus pelan, membawa wangi bunga kopi dari kejauhan. Jika sang pemimpin sungguh membaca coretannya, Karta amat berharap beliau akan tersenyum, mengangguk perlahan, lalu tanpa sadar kembali bersenandung menyanyikan bait-bait lagu Mars Rimbawan yang dahulu pernah menggembleng masa mudanya.
Biarlah Karta tetap menjadi wong alas yang badannya berbau matahari dan tanah basah. Biarlah ia lekas kembali ke petak garapannya, menyiangi gulma dan menanam biji-bijian di sela-sela tegakan pohon jati milik negara. Karena pagi ini, ia sudah menitipkan suaranya, dan suara jutaan petani hutan lainnya, ke dalam pelukan seorang tukang pos. Di dadanya kini mekar sebuah kuncup harapan baru, sehijau dan sesegar tunas jati yang menyembul berani merobek tanah kering setelah turunnya hujan pertama.
*Wong Alas. Pendiri Yayasan Argowilis dan anggota Dewan Pembina LPPSLH.

**Tulisan ini merupakan bagian dari gerakan #SastraAIPemberdayaan











