Sebelumnya…

Sesaji dalam pandangan para spiritualis Inklusi Sosial kejawen memiliki dua elemen penting yaitu elemen magi dan elemen filosofi. Kedua elemen tersebut terkait dengan perwujudan sesaji dan tujuan sesaji.

Magi

Elemen magi terdapat dalam wujud kebendaan atau fisik sesaji. Magi berasal dari kata magicus (bahasa Latin) atau mageia (bahasa Yunani) yang berarti ritus atau cara tertentu yang diyakini dapat menimbulkan kekuatan gaib dan dapat menguasai alam sekitar, termasuk alam pikiran dan tingkah laku manusia. Kalangan spiritualis kejawen meyakini bahwa di dalam wujud kebendaan tertentu terdapat kekuatan-kekuatan tertentu yang mampu menghubungkan manusia dengan berbagai kekuatan alam semesta.

Elemen magi pada sesaji hadir sebagai laku dalam berkontemplasi dengan alam semesta guna berkomunikasi dengan leluhur. Inklusi Sosial. Siapa itu leluhur? Yaitu kakek moyang yang telah sumare. Sukma mereka diyakini tidak pernah mati. Berada di alam kelanggengan (keabadian) dan jiwanya masih mampu melakukan sesuatu sesuai dengan perilaku selama hidup di dunia. Mereka yang semasa hidupnya berbuat kebajikan, mengayomi kluarga dan lingkungannya, maka setelah meninggal jiwa mereka masih terus berbuat kebajikan dan mengayomi anak cucu. Sebaliknya mereka yang semasa hidupnya suka berbuat kerusakan dan kejahatan, maka sukma mereka tinggal di batu kayu dan jiwa mereka menjadi hantu-hantu gentayangan.

Ajaran budi luhur yang merupakan dasar piwulang para spiritualis kejawen telah menjadi kekuatan kesadaran para spiritualis kejawen senantiasa berperilaku hormat kepada leluhur ingkang sampun sumare. Untuk itulah pada waktu-waktu tertentu mereka melakukan ritual yang bertujuan untuk menghormati leluhur. Mereka melakukan tindakan pemujaan, persembahan, caos pisungsum, mbekeni, dan atau mbekteni melalui sesaji. Inklusi Sosial. Wujud-wujud kebendaan tertentu seperti kukus menyan, bunga, bubur panca warna, nasi tumpeng, dan sejenisnya diyakini memiliki kekuatan magis sebagai sajian bagi leluhur.

Di sisi lain para spiritualis kejawen meyakini bahwa sukma dan jiwa leluhur ingkang sampun sumare telah berada pada posisi lebih dekat dengan Tuhan di alam kelanggengan. Untuk itulah pada momentum-momentum tertentu mereka caos sesaji dengan tujuan ngayom dan nyuwun pitulungan bagi tercapainya tujuan dan cita-cita. Bagi mereka, yang mati adalah wujud fisiknya. Sukma dan jiwanya masih hidup di alam kelanggengan sebagai bagian dari kuasa Tuhan dan masih berkemampuan paring pitulungan kepada anak-cucu. Inklusi Sosial.

Tindakan ini didasari oleh kesadaran akan kekurangan atau ketikdak-sempurnaan pada diri manusia Jawa. Ibarat seseorang yang klilipan maka ia akan minta bantuan orang lain untuk meniup matanya sehingga klilip segera hilang. Seseorang yang sakit minta bantuan dokter didasari oleh keyakinan bahwa dengan ilmu yang dimiliki maka seorang dokter dapat menyembuhkan penyakitnya. Seseorang yang akan membangun rumah minta bantuan ahli bangunan untuk mendirikan rumah yang diinginkan. Seseorang yang ingin selamat dan rejekinya lancar meminta bantuan leluhur dengan harapan mendapat keselamatan dan kelancaran rejeki. Dokter dan ahli bangunan bukan Tuhan. Demikian pula leluhur juga bukan Tuhan. Tetapi dengan didasari oleh keyakinan akan keahlian yang dimiliki maka dokter, ahli bangunan dan leluhur dapat menjadi lantaran tercapainya tujuan dan cita-cita. Inklusi Sosial.

Orang Jawa yakin betul betapa manusia lahir di dunia dibekali kemampuan yang berbeda-beda dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Setiap orang memungkinkan memiliki bakat dan minat serta tingkat kesuksesan yang berbeda-beda. Dengan bakat dan minat yang sama pun belum tentu menjangkau pencapaian dengan kualitas dan kuantitas yang sama. Ibarat manuk ana ing sajroning kurungan, maka jenis bahan dasar, bentuk dan kekuatan kurungan berpengaruh pada jenis burung di dalamnya. Kurungan kecil terbuat dari bambu lebih cocok untuk tempat tinggal burung emprit, gelatik, parkit dan sejenisnya. Sedangkan kurungan besar dengan ruang yang luas cocok untuk cucak rawa, rajawali, elang, dan sejenisnya. Ini merupakan kesadaran kaum spiritualis kejawen tentang adanya perbedaan dan ketidak-sempurnaan titahing Gusti.

Dan tindakan ngayom terhadap leluhur adalah bentuk effort atau usaha menutup celah kekurangan atau ketikdak-sempurnaan pada diri seseorang. Melalui cara ning dan neng mereka berkontemplasi, menyambungkan setiap getaran dan frekuensi alam semesta untuk berkomunikasi dengan leluhur, mengabarkan tentang keluh kesah dan gegayuhan, lalu mengharap leluhur akan meluluskan segala yang diminta.

Pada kesempatan yang berbeda, bahkan para spiritualis kejawen dapat mengundang leluhur untuk hadir pada sebuah perhelatan yang dilakukan dalam kehidupan sosio-kultural. Salah satu contoh yang dijumpai pada pertunjukan ebeg. Para pelaku pertunjukan ebeg menyiapkan berbagai macam sesaji untuk nggayuh datangnya leluhur yang mereka sebut dengan istilah indhang untuk merasuk ke dalam diri pemain sehingga para pemain ebeg mengalami trance atau wuru/mendem.

Selanjutnya…


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *