Sebelumnya…

Sesaji dalam pandangan para spiritualis kejawen memiliki dua elemen penting yaitu elemen magi dan elemen filosofi. Kedua elemen tersebut terkait dengan perwujudan sesaji dan tujuan sesaji.

Filosofi

Sesaji memiliki makna filosofi yang terletak pada simbol-simbol. Inklusi Sosial. Sebagai homo-symbolicum orang Jawa paling pandai menciptakan simbol dan memaknainya selaras dengan kontinuitas kehidupan di jagat sesrawungan. Kukus menyan yang dari tinjauan magi bermakna sebagai sekul pethak ganda arum sebagai suguhan bagi leluhur, memiliki makna simbolis sebagai tangga pencapaian ngudag kusumaning Hyang Jati (mengkaji dan menghayati serta menelusuri hakekat dari nilai-nilai keTuhanan). Demikian pula bubur manca warna dengan warna merah, putih, kuning, hitam dan hijau memiliki makna simbolis empat unsur alam dalam diri manusia yaitu api, air, angin dan tanah sebagai asal badan sekojur dan bubur warna hijau melambangkan inel-ineling menungsa.

Melalui jembatan keledai berupa simbol, manusia memaknai setiap wujud kebendaan dan suasana dengan makna yang lebih dalam dan semakin dalam guna mengenali lebih jauh tentang ketuhanan. Penganut spiritual kejawen berpegang teguh pada ajaran leluhur, “Weruh marang Pangeran iku ateges wis weruh marang awake dhewe, lamun durung weruh awake dhewe tangeh lamun weruh marang Pangeran.” Ajaran tersebut menegaskan bahwa mengenali Tuhan sama dengan mengenali diri sendiri. Sebagai sosok utuh dalam kediriannya yang kasat mata dan tangan kasat mata. Artinya ketika kita ingin mengenali Tuhan maka kita harus memulai dari mengenali diri sendiri. Yang dimulai dari tidak ada, menjadi ada, dan kelak kembali tidak ada. Mbiyen ora ana, siki dadi ana, mbesuk bakal ora ana. Gusti tan kena kinayangapa. Kahanan lan wahananing Gusti mutlak menjadi rahasia alam yang titah tidak berwenang mengetahuinya.

Karsaning Gusti baru dapat dirasakan kehadirannya ketika sudah sagelar sapapan kanyatan lan kasunyataning urip. Menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap wewujudan lengkap dengan segenap eksistensinya. Karsaning Gusti kawedhar melalui alam pikir, alam rasa, alam batin, alam kehendak hingga tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Inklusi Sosial. Apabila alam pikir, rasa lan batin sudah manunggal atau nyawiji dengan kahanan lan wahananing Gusti maka Gusti kasarira pada diri manusia. Dan saat itulah seorang manusia menjadi panjalmaning Gusti.

Sebagaimana tergambar pada nasi tumpeng, konsep ketuhanan versi spiritualis kejawen adalah tunggal dan manunggal. Manusia Jawa sejak ribuan tahun yang lalu mengenal Tuhan dalam konsep monotheisme. Bukan polytheisme. Konsep polytheisme baru dikenalkan kepada bangsa Jawa sejak agama Hindu masuk ke nusantara kurang lebih dua abad sebelum masehi. Tuhan dengan berbagai sebutannya seperti Hong, Hyang, Pangeran dan lain-lain diyakini manunggal atau nyawiji menjadi satu-kesatuan eksistensi setiap makhluk atau titah di dunia ini. Inklusi Sosial.

Dalam perwujudannya, Gusti (Tuhan) manunggal atau nyawiji di dalam setiap bentuk atau wewujudan yang ada di jagat raya seperti bintang, bulan, matahari, batu, pohon, air, gegremetan, dan tidak terkecuali manusia. Kahanan lan wahananing Gusti menjadi satu-kesatuan yang utuh dalam konteks kanyatan dan kasunyatan, fisik dan nir-fisik, kasat mata dan tan kasat mata.

Selanjutnya …


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *