Sebelumnya…

Sesaji sebagai Kesadaran Sosial

Spiritualis kejawen memiliki dua kitab yang tidak akan tamat dibaca seumur hidup sampai akhir jaman berupa kitab tan tinulis yang disebut Kitab Jagat Gumelar (macro cosmos) dan Kitab Jagat Gumulung (micro cosmos). Wujudnya tertuang dalam sastra cetha dan sastra lampah. Jagat gumelar tidak lain adalah jagat seisinya berupa bintang, bulan, matahari bumi, mega, hujan, laut, batu, kayu, api dan sebagainya baik yang kasat mata maupun tak kasat mata. Sedangkan jagat gumulung adalah badan sekojur pada diri manusia meliputi wujud fisik, sukma, jiwa, pikir, rasa, batin, swasana, nasib dan seterusnya. Untuk memahami hal ihwal tentang hidup maka manusia harus membaca setiap fenomena yang dijumpai pada jagat gumelar maupun jagat gumulung. Penuangan melalui sastra cetha maksudnya adalah segala bentuk atau wujud kebendaan hingga makna, sifat dan fungsinya yang harus dimengerti dan dipahami secara lebih dalam dan lebih dalam lagi. Adapun yang dimaksud dengan sastra lampah adalah pemahaman tentang alam rasa, alam pikir, alam batin, krenteg, karep (kehendak) hingga perwujudan dalam omong sekecap laku setindak dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu pun harus dipahami sedalam-dalamnya tanpa pretensi. Inklusi Sosial.

Caos sesaji dalam berbagai perwujudannya didasari oleh kesadaran manusia sebagai makhluk dependen yang tidak dapat hidup sendiri. Faktanya, di dalam sesaji selain terkandung elemen magi dan elemen filosofi, juga terkandung kesadaran sosial dalam konteks hubungan dengan sesama manusia, dengan sesama hidup, dengan alam semesta, dengan Tuhan. Seberapa jauh seseorang berkemampuan membaca Kitab Jagat Gumelar dan Kitab Jagat Gumulung berbanding searah dengan kemampuan seseorang memaknai setiap sisi hubungan tersebut. Dan semua itu terangkum di dalam macam-macam sesaji yang dipersembahkan.

Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial Inklusi Sosial sekaligus makhluk bertuhan secara nyata tergambar pada nasi tumpeng beserta lauk-pauknya. Nasi tumpeng sendiri merupakan simbol hubungan manusia dengan Tuhan. Sementara itu lauk-pauknya menggambarkan kebhinekaan dalam kehidupan sosial. Lauk pauk terdiri dari berbagai jenis olahan dari bahan dasar sayuran dan daging yang memiliki aneka rasa manis, asin, asam, pahit dan pedas menggambarkan berbagai jenis manusia lengkap dengan segala sifat dan perilakunya. Kluban yang berupa perpaduan sayuran dan ampas kelapa menggambarkan bahwa setiap orang harus mampu hidup berbaur dengan siapa saja di lingkungannya dengan saling mengisi untuk mewujudkan kehidupan yang aman, tenteram dan damai.

Masih banyak lagi ragam sesaji yang memiliki makna kesadaran sosial. Alas tikar menggambarkan betapa dalam kehidupan sosial setiap individu harus satu maksud satu tujuan yang didasari oleh nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan. Lawon (kain mori putih) memiliki makna hendaknya dalam ucapan dan tindakan harus dilandasi oleh perasaan dan pikiran yang bersih. Sementara itu bunga-bungaan diartikan bahwa dalam hidup ini harus mampu berbuat hal terbaik yang menebarkan keharuman nama diri dan kelompok sosialnya.

Wedang kopi memiliki makna bahwa manusia dalam hidupnya harus senantiasa siap menghadapi manis pahitnya kehidupan. Bekakak atau ingkung menggambarkan bahwa hidup harus senantiasa pasrah sumarah mring purbaning Gusti. Sedangkan jajanan pasar menggambarkan kerukunan dalam perbedaan yang harus senantiasa tenggang rasa. Dan ikan teri yang merupakan jenis ikan kecil yang suka bergerombol melambangkan manusia dalam hidupnya harus senantiasa hidup rukun saling menghargai, saling menghormati dan saling tolong-menolong.

Kesimpulan

Sesaji sebagai sebuah prosesi ritual tradisional bukanlah sesuatu hal yang bersifat gugon tuhon. Sebagai wujud persembahan, sesaji didasari oleh alur pikir logis dan rasional sesuai dengan konsep alam pikir, alam rasa dan pengalaman hidup masyarakat pendukungnya. Di dalamnya terkandung kaya makna yang harus digoleki (dicari) sejauh mungkin dalam koridor positif thinking dan kesadaran diri sebagai makhluk bertuhan sekaligus sosial. Melalui berbagai perwujudannya, sesaji adalah wujud doa. Di sini kita dapat melihat betapa doa tidak selalu harus berwujud kata-kata. Wujud kebendaan atau suasana dapat dimaknai secara simbolis yang arahnya adalah sebagai bentuk panyuwunan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Di dalam sesaji terkandung pula simbol-simbol terkait dengan kehidupan sosial manusia yang bersifat dependen, saling membutuhkan. Untuk itulah melalui pemaknaan sesaji yang santun dan beradab maka akan dijumpai nilai-nilai luhur yang dapat digunakan sebagai media pemersatu bangsa.*


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *