Wajah Ganda Etnis dan Agama Di Indonesia – Mengikuti Program Peduli dan gerakan Inklusi Sosial di Indonesia. Kita menjadi lebih paham mengenai keragaman dan juga budaya yang ada di Indonesia. Karena disadari atau tidak, etnis dan agama selalu menghadirkan wajah ganda yang ambivalen, menjadi perekat dan sumber integrasi di satu sisi, tapi di sisi lain juga menjadi pemisah dan sumber konfilik yang mengerikan. Bagaimana masyarakat yang tidak saling mengenal satu dengan lain, berasal dari berbagai belahan dunia bisa terbangun sentimennya karena etnis dan juga agama. Hal itu juga berlaku sebaliknya, bagaimana ikatan-ikatan persaudaraan menjadi pudar karena berbeda etnis dan agama.

Inklusi Sosial sangat penting terwujud di Indonesia. Dalam masyarakat majemuk ini akan ada kelompok minoritas yang karena gangguan sosial dan kepentingannya akan menimbulkan suatu masalah baru yang dapat berkembang ke permukaan. Ketidakstabilan merupakan ciri khas yang melekat pada masyarakat majemuk yang memiliki keanekaragaman budaya sehingga hal ini menjadi satu bentuk adaptasi untuk melihat hubungan antar etnis. Pertikaian antar etnis yang terus terjadi adalah pertikaian yang melibatkan etnis Cina dengan etnis lainnya yang terjadi sepanjang dekade di berbagai tempat di Indonesia. Namun yang terbesar barangkali pertikaian pada tahun 1998 di berbagai kota besar di Indonesia, di mana etnis Cina dijadikan kambing hitam atas keterpurukan ekonomi masyarakat. Ratusan orang dilaporkan terbunuh, puluhan diperkosa, harta benda bernilai triliunan lenyap.

Tak hanya isu mengenai Ahok saja, Indonesia memiliki latar belakang sejarah pertikaian antar etnis skala besar yang lain adalah pertikaian antara etnis Madura dan etnis Dayak di Kalimantan yang sampai terjadi dua kali mulai dari tragedi Sambas hingga Sampit yang mengerikan. Ada ribuan jiwa melayang, harta benda ludes, puluhan ribu orang menjadi pengungsi di negara sendiri. Social cost yang harus dibayarkan luar biasa besar, bahkan mungkin tidak akan sanggup ditalangi oleh pemerintah meskipun diangsur puluhan tahun. Kasus pertikaian atau konflik Suku Dayak dan Suku Madura di Sampit. Konflik antar kedua etnik tersebut berasal dari kecemburuan sosial yaitu dari Suku Dayak sebagai suku pribumi yang mayoritas menduduki kelas sosial yang lebih rendah dari suku pendatang khususnya Madura.

Hal inilah yang membuat kita perlu untuk mempelajari komunikasi multikultural dengan baik. Karena melalui komunikasi multikultural, kita bisa belajar lebih memahami dan lebih peka bahwa sesungguhnya kita semua ini terlahir dari sebuah keberagaman, bukan keseragaman. Tak ada hal yang benar-benar sama di dunia ini, bahkan seorang anak yang dikatakan kembar identik pun, jelas ada perbedaannya.

Pada dasarnya kebudayaan yang dianut oleh kelompok masyarakat itu sangat unik. Mulai dari bahasa, cara makan, cara berpakaian, sopan santun, standar moral dari satu komunitas berbeda dengan standar moral dari komunitas lain. Perbedaan itu memang terlihat kontradiksi, namun kenyataan sejarah menunjukkan adanya sharing of culture yang dapat saling menerima dan mengerti perbedaan itu (Purwasito, 2003:224).


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *