Saresehan yang digelar Minggu 28 Oktober 2018 oleh LPPSLH bersama dukungan Program Peduli mencoba membahas persoalan yang sedang sangat rentan. Tentang sesaji atau sajen, yang oleh salah satu kelompok keyakinan dianggap sebagai sesuatu kuno, bodoh, dan dosa besar. Saya yakin terjadinya anggapan semacam itu karena mereka tidak tahu, tidak paham, hanya melihat kulitnya, tanpa tahu makna yang lebih dalam. Sebagian dari mereka mungkin mengerti, tapi karena nuraninya telah tertutup oleh pemahaman dogma yang membabi-buta maka mereka tidak segan membenturkannya dengan ajaran yang mereka yakini. Ditambahkan pula bumbu penyedap berupa kepentingan politik kekuasaan, sehingga tampak semakin sangar. Sesuatu yang semestinya biasa-biasa saja kemudian jadi luar biasa.

Sesaji yang sudah dikenal masyarakat nusantara sejak ribuan tahun yang lalu, sekarang dibahas dalam orasi-orasi, dikaitkan dengan fenomena bencana alam, bahkan fluktuasi ekonomi pasar dan perkembangan geo-politik global dikaitkan sebagai dampak sesaji. Sesaji yang dalam kehidupan komunitas kejawen dimaknai sebagai tindakan luhur berupa laku pemujaan, persembahan, caos pisungsum, mbekeni, dan atau mbekteni leluhur telah dimaknai secara serampangan. Lalu menjadi alasan pembeda untuk sekedar meneguhkan legitimasi seolah “punyaku lebih baik dari punyamu”. Ini sungguh mal-praktek dalam bertuhan!

Sesaji dalam pandangan para spiritualis kejawen memiliki dua elemen penting yaitu elemen magi dan elemen filosofi. Kedua elemen tersebut terkait dengan perwujudan sesaji dan tujuan sesaji.

    Selanjutnya…

     

    Disampaikan pada Sarasehan Makna Sesaji yang diselenggarakan oleh Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Kabupaten Banyumas bertempat di Pendapa Limas Agung Purwokerto tanggal 28 Oktober 2018.

    Oleh:

    Yusmanto, S.Sen, M.Sn

    (Praktisi budaya dan redaktur Majalah Ancas)


    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *